Belajar Kehidupan Dari Pak Tua

Diposting pada

Kehidupan dan nilai-nilai didalamnya bisa dipelajari dari siapa saja dan di mana saja. Banyak hal yang dapat di pelajari dari sekitar kita,  tetapi kita sering kali cuek, atau tak acuh akan semua itu. Mungkin kita lebih sering memandang rendah seseorang sehingga malas atau tidak mau mengambil ilmu dari orang tersebut.

Nilai Kehidupan ketika Al Ghazali bertemu sang perampok

Nilai Kehidupan dari Pedagang Koran

Sosok berumur itu selalu lewat di depan tempat usahaku. Tidak ada yang istimewa dengan sosoknya. Dengan pakaian sedikit lusuh dan membawa koran pagi, majalah, tabloid untuk dijajakan ke langganan-langganannya, berjalan kaki.

Dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, beliau menjelajahi jalanan dari Pondok Labu hingga Tanah Baru (+/- 10 km), Ciganjur, sejak subuh hingga sore menjelang.

Sering kali aku membeli koran darinya dan membuka sedikit obrolan dengannya. Lebih banyak sih, aku yang bertanya kepadanya. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Pak Tua itu masih mau menjemput rezeki dengan berjalan kaki, mengumpulkan uang ‘recehan’ demi menghidupi dirinya dan keluarganya.

Belum kalau hujan turun, yang otomatis akan menghentikan langkahnya untuk berteduh menunggu hujan berhenti.

Ketika aku tanyakan tentang berapa penghasilannya sehari, secara diplomatis beliau selalu menjawab,

“Rezeki itu sudah ditentukan dan dijamin oleh Allah swt, kita yang harus berusaha menjemput rezeki tersebut. Tentang berapa yang kita dapat dari usaha tersebut, hal itu sudah kehendak Allah. Alhamdulillah, masih bisa mencukupi kebutuhan kami selama ini.”

Jleb. Ada benarnya yang beliau ucapkan, berjualan koran yang ia lakukan hanyalah sebuah usaha, sebuah sebab, yang hasilnya/akibatnya ialah ia akan mendapatkan uang. Bagaimana bisa seseorang yang tidak berusaha sama sekali bisa mengharapkan rezeki turun dari langit?

Sudah merupakan hukum alam bahwa untuk mendapatkan sesuatu kita harus melakukan suatu usaha terlebih dahulu, atau lebih dikenal hukum sebab akibat. Bila ingin pintar ya belajar, mau kerja ya ngelamar pekerjaan, mau punya anak ya menikah dulu, mau sehat ya olahraga.

Burung yang ingin mendapatkan makanan saja selalu terbang mencarinya ke sana sini, kita? Manusia, makhluk yang katanya otaknya lebih maju daripada makhluk lainnya, kok gak mau berusaha.

Kebanyakan dari kita maunya serba instant, buka usaha juga maunya langsung punya omset besar, langsung buka cabang di tempat lain, balik modalnya cepat. Kerja juga maunya langsung dapat gaji tinggi, atau langsung punya jabatan enak. Ada juga yang pergi ke dukun biar uangnya bisa digandain.

Kisah Imam Al Ghazali dan Perampok

Dikisahkan Imam Al-Ghazali dalam perjalanan pulang bersama kafilah yang hendak pulang ke kampungnya. Di tengah perjalan kafilah itu di hadang oleh segerombolan perampok, yang mengambil setiap barang yang dibawa oleh rombongan kafilah tersebut.

Ketika tiba giliran Imam Al Ghazali, ia berkata, “Kalian boleh ambil barang-barang yang lain, tapi tolong jangan ambil yang satu ini.”

Mendengar ucapan tersebut sang perampok berpikir pastilah barang berharga yang berusaha di selamatkan oleh orang ini. Tetapi setelah diperiksa, isinya hanyalah kertas-kertas kusam catatan belajar Imam Al Ghazali.

“Apa ini? Untuk apa kamu menyimpannya?” Tanya perampok itu.

“Itulah barang-barang yang tidak berguna bagi kalian, tetapi berguna bagiku,” jawab Al-Ghazali

“Apa gunanya?” tanya perampok lagi.

“Ini adalah hasil pelajaranku selama bertahun-tahun. Kalau kalian merampasnya dariku, maka ilmuku akan habis dan usahaku yang bertahun-tahun itu akan sia-sia”. Jawab Imam Al Ghazali

“Hanya ada dilembaran inikah ilmumu?” Tanya salah seorang perampok.

“Ya” jawab Al-Ghazali singkat.

“Ilmu yang disimpan dalam bungkusan dan dapat dicuri, sebenarnya bukanlah ilmu. Pikirkan nasib dirimu baik-baik bung.”

Bila Imam Al-Ghazali saja mau memikirkan ucapan sederhana yang keluar dari mulut seorang perampok yang hendak merampok dirinya. Ucapan sederhana itu merubah pikiran Imam Al Ghazali, bukan sekedar mencatat ilmu-ilmu yang ia pelajari tetapi berusaha melatih otaknya lebih banyak, mengkaji dan menganalisis, lalu menyimpan ilmu-ilmu yang bermanfaat itu di “buku otaknya”.

Sampai-sampai sang Imam berkata,

“Sebaik-baiknya nasihat yang membimbing kehidupan intelektualitasku adalah nasihat yang kudengar dari mulut seorang perampok”

Kenapa aku tidak mengambil nilai kehidupan yang baik dari orang tua itu?

So, don’t judge a book by it’s cover

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *