Imajinasi dan Kreatifitas Anak Kami, Azka

Spread the love

Senangnya melihat dan memperhatikan buah hati kami bermain. Imajinasi dan kreatifitas anak kami bermain dengan bebasnya.

Azka bebas “berpetualang” dalam dunianya, bebas mengeksplorasi segala hal yang ada di sekitarnya. Mainan yang mungkin menurut orang dewasa biasa saja, akan menjadi mainan yang menarik baginya.

Imajinasi dan Kreatifitas Anak

Berimajinasi dan kreatifitas sepertinya tidak terpisahkan. Imajinasi adalah dasar dari proses kreatif. Imajinasi dapat saja lahir dari proses meniru, baik dari tayangan yang ditontonnya atau dari dongeng/cerita yang didengarnya.

Tetapi, dapat juga imajinasi itu lahir murni dan orisinil dari benak si kecil, yang terkadang membuat kita sebagai orangtua bengong.

Azka bebas “berpetualang” dalam dunianya, bebas mengeksplorasi segala hal yang ada di sekitarnya. Mainan yang mungkin menurut orang dewasa biasa saja, akan menjadi mainan yang sangat menarik baginya.

Atau barang-barang biasa yang ada di sekitarnya akan di jadikan mainan menarik olehnya.

Seperti gambar di samping ini. Dengan berbekal kursi untuk boncengan motor matic dan helm, ia mengatakan sedang naik mobil balap. 🙂

Padahal ia punya mobil-mobilan besar yang dapat di dorong dan di naiki olehnya.

Atau ketika ayahnya membawa pulang banyak kardus putih bekas kamera people counting. Dengan celotehnya yg masih cadel ia menanyakan kepada ayahnya, “Ayah boleh pinjam? ”

“Buat apa Azka? ” tanya ayahnya
“Buat mainan… ”

Dalam sekejap kardus-kardus itu sudah berubah jadi gedung pencakar langit, kereta-keretaan, pemadam kebakaran dan gedungnya, dan permainan lainnya. Dan seperti biasa, rumah pun menjadi berantakan. Itulah proses kreatifnya Azka. 😀

Menumbuhkan Imajinasi Anak

Imajinasi memang menumbuhkan proses kreatif, atau merangsang sisi kreatifnya si kecil. Karenanya kami tidak pernah melarang imajinasi dan kreatifnya Azka, selama itu tidak membahayakan, seperti ketika ia mencari gunting untuk “membuat mainan” versi Azka, ya jelas tidak kami beri.

Alhamdulillah ayahnya sering kali menemani Azka bermain dengan imajinasinya, entah berpura-pura jadi pemadam kebakaran, bermain hotwheels. Dan ayahnya seringkali hanya mengikuti apa imajinasi batita kami.

Kalau melihat mereka berdua, seperti ada dua anak kecil di rumah kami.

Terkadang juga kami hanya berperan sebagai pendengar ketika anak kami mulai menceritakan imajinasinya, atau bercerita tentang tayangan yang telah ia tonton.

Terkadang kami iri, karena Azka masih dapat bebas mengeksplorasi dan berpetualang dalam imajinasinya, tanpa ada rasa takut untuk salah.

Sedangkan aku sebagai orang dewasa terkadang seakan kehilangan ide, atau kehilangan keberanian untuk mewujudkan ide-ide yang berseliweran. Ketakutan akan berbuat salah itu mungkin yang menyebabkan kreatifitasku mati.

Semoga kami tidak mengekang kebebasan Azka untuk berimajinasi dan berkreatifitas, selama masih aman dan sesuai dengan ajaran Islam.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas