Dilema Memilih SD Card: Mengapa Saya Malah Beli Kapasitas Kecil ?

Dilema Memilih SD Card: Mengapa Saya Malah Beli Kapasitas Kecil ? 2
Gambar oleh Esa Riutta dari Pixabay

Bagi kita yang hobi jeprat-jepret atau hobi bikin vlog keluarga, kamera tanpa kartu memori itu ibarat mobil mewah tanpa bensin. Bisa dipandangi, tapi nggak bisa dibawa jalan.

Kartu memori atau SD Card (Secure Digital) adalah jantung dari penyimpanan data foto dan video kita.

Dilema Memilih SD Card: Mengapa Saya Malah Beli Kapasitas Kecil ? 3

Setelah tahun lalu saya sempat berbagi cerita tentang serunya berburu baterai cadangan, kali ini giliran “amunisi” penyimpanan yang saya perbarui. Jujur saja, keputusan membeli SD Card baru ini muncul karena sebuah momen “tragis” bin menyebalkan yang sering saya alami di lapangan.

Pernah nggak sih, kamu sudah siap action, si kecil Azka sudah bergaya lucu, tapi pas tekan tombol shutter, di layar kamera malah muncul tulisan merah: “No Memory Card” atau “Memory Full”?

Rasanya mau nangis di tempat! Itulah alasan kenapa saya memutuskan untuk menambah stok kartu memori.

Matematika Sederhana: Kenapa 32 GB Mulai Terasa Sempit?

Mungkin banyak yang bertanya, “Hari gini kok masih pakai 32 GB?”. Mari kita bedah sedikit hitung-hitungannya secara personal.

Saat saya merekam video vlog bersama Azka dengan kualitas Full HD (1080p) pada frame rate 24 atau 30 fps, satu menit video rata-rata memakan ruang sekitar 170 MB. Artinya, satu keping SD Card 32 GB hanya sanggup menampung sekitar 188 menit rekaman. Itu kalau isinya cuma video saja, lho.

Kalau dipakai buat foto dengan format RAW (yang datanya mentah dan besar demi kualitas editing maksimal), satu keping 32 GB hanya muat sekitar 1.200-an foto. Kelihatannya banyak, ya? Tapi kalau sudah asyik memotret momen anak bermain, seribu foto itu bisa habis dalam sekejap!

“Loh, kenapa nggak rekam 4K saja?”

Nah, ini dia kendala sejuta umat fotografer amatir: perangkat editing. Laptop saya masih “ngos-ngosan” kalau disuruh mengolah video 4K. Daripada dipaksa lalu laptopnya malah berasap, lebih baik saya setia dulu di jalur Full HD. Hehehe.

Alasan saya membeli kartu memori baru adalah karena kartu memori yang saya miliki saat ini sudah mulai terasa kurang. Apalagi ketika digunakan untuk merekam video bersama si kecil Azka. Untuk 1 menit video kualitas Full HD, rata-rata dibutuhkan space sekitar 170 MB, itupun dengan frame rate 24 atau 30 fps.

Baca Juga : Cara Bayar Pajak Kendaraan Online: Panduan Lengkap Step-by-Step (Plus Pengalaman Pribadi)

Strategi “Jangan Taruh Telur dalam Satu Keranjang”

Mungkin kamu heran, kenapa saya lebih memilih nambah kapasitas 32 GB lagi daripada langsung beli yang 128 GB atau 256 GB? Harganya kan beda tipis?

Ada filosofi “berbagi risiko” di sini. Bayangkan kalau saya pakai satu kartu memori raksasa 256 GB, lalu di tengah jalan kartu itu error, patah, atau hilang. Habis sudah seluruh dokumentasi perjalanan saya! Sakit hatinya bisa berbulan-bulan.

Dengan membagi data ke beberapa kartu 32 GB:

  1. Keamanan Data: Kalau satu kartu bermasalah, saya masih punya cadangan lain untuk lanjut motret.
  2. Kedisiplinan: Saya jadi terpaksa lebih rajin memindahkan data ke laptop setelah kartu penuh.
  3. Budget: Sisa uangnya bisa saya alokasikan untuk beli aksesori lain, seperti filter lensa atau pembersih sensor.

Belajar Kode “Rahasia” di Label SD Card

Dulu, saya pikir semua kartu memori itu sama saja asal masuk ke lubangnya. Ternyata, setelah belajar dari pengalaman, memilih SD Card itu butuh ketelitian membaca “kode rahasia” di labelnya. Biar kamu nggak bingung, ini ringkasannya:

1. Kapasitas (SD vs SDHC vs SDXC vs SDUC)

Ini adalah kasta berdasarkan kapasitas penampungan data:

  • SD: Jadul banget, cuma sampai 2GB.
  • SDHC: Kapasitas 4GB – 32GB (Ini yang paling sering saya pakai).
  • SDXC: Kapasitas 64GB – 2TB.
  • SDUC: Ini teknologi masa depan, bisa sampai 128TB!

Ingat ya, cek dulu spesifikasi kameramu. Seperti Canon EOS M3 milik saya, dia maksimal hanya sanggup membaca tipe SDXC. Beli SDUC yang mahal itu cuma bakal berakhir jadi pajangan karena nggak akan terbaca.

2. Kecepatan Tulis (Speed Class & UHS)

Ini yang menentukan seberapa cepat kamera bisa menyimpan data setelah kita memotret. Ada Kelas 2, 4, 6, sampai 10. Untuk standar video masa kini, minimal pakailah Kelas 10.

Lalu ada lagi simbol UHS (Ultra High Speed).

  • U1: Minimal kecepatan tulis 10 MB/s.
  • U3: Minimal kecepatan tulis 30 MB/s. Semakin tinggi kelasnya, semakin lancar kamera melakukan burst mode (memotret beruntun tanpa jeda).

3. Video Speed Class (Simbol V)

Kalau kamu fokus di video, perhatikan simbol V (V6 sampai V90).

  • V30: Ini standar aman kalau kamu mau rekam 4K di 60/120 fps.
  • V60/V90: Ini biasanya untuk profesional yang main di kualitas 8K.
Cara Baya Keterangan di SD Card

Sandisk atau Lexar: Mana yang Paling “Bandel”?

Masuk ke urutan merek, ini selera sih. Tapi kalau kamu tanya ke komunitas fotografi, nama Sandisk pasti disebut pertama kali. Sandisk itu ibarat “iPhone”-nya kartu memori; sangat populer tapi sayangnya banyak sekali versi palsunya di marketplace. Harganya yang selangit seringkali jadi celah buat oknum nakal menjual produk KW.

Opsi kedua yang nggak kalah hebat adalah Lexar.

Setelah menimbang-nimbang antara harga, performa, dan risiko keaslian, pilihan saya akhirnya jatuh ke Lexar Professional. Secara harga, Lexar seringkali sedikit lebih ramah di kantong dibandingkan Sandisk dengan spesifikasi yang setara.

Bagi saya yang hanya seorang fotografer dan vlogger amatir, Lexar sudah lebih dari cukup untuk menangkap ekspresi Azka tanpa harus khawatir kartu memori lag atau macet di tengah jalan. Yang penting, belilah di Official Store untuk menjamin garansi dan keasliannya.


Kesimpulan

Memilih kartu memori itu sebenarnya sangat personal. Tidak perlu ikut-ikutan beli yang paling mahal atau paling besar kapasitasnya jika kebutuhanmu hanya untuk dokumentasi keluarga. Yang paling penting adalah kamu paham spesifikasi kamera kamu dan tahu cara mengelola risiko kehilangan data.

Kalau kamu sendiri, lebih tim mana? Tim Sandisk yang legendaris atau Tim Lexar yang fungsional seperti saya? Atau mungkin punya merek andalan lain yang lebih awet? Tulis di kolom komentar ya, siapa tahu bisa jadi referensi buat saya beli kartu berikutnya!

Tinggalkan Balasan

*