Mengenal Lebih Jauh Tentang Difteri

Diposting pada

Hari ini 3 provinsi di Indonesia yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten melakukan imunisasi difteri secara serentak. Tiga provinsi ini termasuk dari 11 provinsi yang melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri, yaitu provinsi Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Aceh, Riau, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Imunisasi
Vaccination by whitesession under CC0 licensed

Di DKI Jakarta sendiri pada tahun 2017 ini tercatat ada 25 kasus difteri dengan 2 kematian, meningkat dari 17 kasus dengan 1 kematian pada tahun 2016. Di seluruh Indonesia, sampai dengan bulan November 2017 tercatat 561 kasus difteri, dan sebanyak 32 kasus berakhir dengan kematian.

Apa itu Difteri?

Difteri adalah infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae, atau dikenal juga sebagai Klebs-Loffler Bacillus dan biasanya mempengaruhi selaput lendir hidung dan tenggorokan.

Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani secara cepat.

Gejala Difteri

Difteri umumnya memiliki masa inkubasi 2 – 5 hari dan akan menular selama 2 – 4 minggu. Adapun gejala dari penyakit ini antara lain adalah :

  • Adanya selaput tebal keabu-abuan di tenggorokan atau di hidung
  • Sakit tenggorokan dan suara menjadi serak
  • Demam dan menggigil
  • Sulit bernapas dan menelan,
  • Mengeluarkan lendir dari mulut dan hidung
  • Batuk
  • Kelenjar bening di leher membesar dan terasa sakit.
  • Lemas dan lemah.

Bakteri ini juga dapat menyerang kulit yang menyebabkan luka pada kulit seperti borok. Borok ini akan sembuh dalam beberapa bulan, tetapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

Segera periksakan diri ke dokter apabila Anda atau anak-anak Anda menunjukan gejala-gejala seperti di atas. Selain untuk mencegah komplikasi, juga untuk mencegah penularan penyakit ini ke lingkungan sekitar.

Cara Penularan

Difteri mudah sekali menular melalui udara melalui batuk atau bersin dari penderitanya. Hal ini disebabkan karena bakteri ini paling banyak bersarang di tenggorokan dan hidung yang membentuk selaput putih dan tebal, yang lama-lama dapat menutupi saluran pernapasan.

Sentuhan langsung pada luka borok akibat penyakit ini pada kulit penderita juga dapat menularkan pada orang lain. Pada kasus yang langka, sentuhan pada objek (benda) yang sudah terkontaminasi oleh bakteri difteri juga dapat menularkan penyakit ini.

Komplikasi akibat Difteri

Racun yang di hasilkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal serta sistem saraf. Akibatnya dapat menimbulkan komplikasi penyakit lainnya, seperti :

  • Tertutupnya saluran napas oleh selaput
  • kerusakan pada otot jantung (miokarditis)
  • kerusakan pada saraf (polineuropati)
  • kelumpuhan (paralysis)
  • infeksi paru (gagal napas atau pneumonia)

Pengobatan

Bakteri ini peka pada sebagian besar antibiotika, seperti penisilin dan ampisilin. Karenanya pengobatan bagi penderita difteri adalah dengan pemberian antibiotika dan anti toksin.

Antibiotika yang di berikan berguna untuk membunuh dan menghilangkan bakterinya sedangkan anti toksin diberikan untuk menghentikan racun yang diproduksi oleh bakteri ini agar tidak menimbulkan komplikasi.

Penderita biasanya di isolasi, sampai mereka tidak berpotensi menularkan penyakit ini kembali. Setelah diberikan antibiotik, akan dilakukan pemeriksaan pada pasien untuk memastikan bakteri Corynebacterium Diptheriae sudah tidak ada di dalam tubuh pasien.

Walau dengan perawatan, sekitar 1 dari 10 pasien yang terkena difteri dapat meninggal. Dan tanpa perawatan yang cepat dan tepat, 1 dari 2 pasien dapat meninggal karena penyakit ini.

Baca juga : 5 Jam di RSUD Pasar Minggu

Pencegahan Difteri

Untuk saat ini cara terbaik untuk mencegah penyakit ini adalah dengan pemberian vaksin. Di Indonesia kita mengenalnya dengan imunisasi DPT (Difteri Pertusis Tetanus) yang diberikan pada balita. Imunisasi DPT sendiri merupakan bagian dari imunisasi dasar lengkap yang diberikan kepada balita.

Pemberian imunisasi DPT yang ideal adalah 3 kali sampai umur 1 tahun, 4 kali sampai umur 2 tahun, 5 kali sampai umur 5 tahun, 6 kali sampai umur 6 tahun, 7 kali sampai umur 7 tahun, sampai tamat SD kalau bisa sudah 8 kali DPT.

Perilaku hidup sehat juga dapat mencegah penularan penyakit ini, dengan membiasakan mencuci tangan, mengkonsumsi makanan yang kaya vitamin dan mineral untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

Tetap sehat semuanya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *