Surabaya selalu punya cara unik untuk menyambut tamunya. Minggu lalu, saya mendarat di Kota Pahlawan ini bukan untuk liburan, melainkan urusan pekerjaan bersama seorang teman.
Tapi, siapa sih yang sanggup menolak pesona kuliner Surabaya?
Begitu pekerjaan selesai dan perut mulai keroncongan, teman saya langsung nyeletuk, “Yuk, makan malam di tempat yang legendaris. Dekat Balai Kota, namanya Sate Klopo Ondomohen.”
Mendengar kata “Sate Klopo”, jujur saja, imajinasi saya langsung melayang ke Sate Lilit khas Bali yang memang menggunakan campuran kelapa di adonannya. Ternyata, bayangan saya meleset jauh. Dan itulah awal dari petualangan rasa saya malam itu.
Perjalanan Kecil Menembus Malam Surabaya
Kami memulai perjalanan dari Hotel Cleo di kawasan Basuki Rahmat. Malam itu udara Surabaya terasa cukup bersahabat. Kami menyeberang santai ke depan Balai Pemuda, lalu mencoba peruntungan naik angkutan kota (angkot). Sayangnya, karena asyik mengobrol dan suasana sudah cukup larut, saya sampai lupa mencatat nomor angkotnya.
Kami turun tepat di depan Balai Kota Surabaya yang megah. Dari sana, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju lokasi. Ternyata, jalannya lumayan jauh juga! Tapi sisi positifnya, rasa lapar kami jadi semakin memuncak.
Jalan kaki di Surabaya saat malam hari punya vibe tersendiri—lampu kota, hiruk pikuk yang mulai mereda, dan aroma makanan yang mulai tercium dari kejauhan. Akhirnya, kami sampai di sebuah warung yang tampak sederhana namun sangat hidup: Sate Klopo Ondomohen Ibu Asih.
Baca juga: Menemukan “Harta Karun” di Kukusan: Cerita Azka dan Semangkuk Yokina Ramen
Ondomohen: Nama Klasik yang Tak Lekang oleh Waktu
Satu hal yang sempat membuat saya penasaran adalah namanya. “Ondomohen” terdengar sangat vintage, bukan? Selidik punya selidik, ternyata itu adalah nama jalan di zaman dulu. Sekarang, jalannya sudah berganti nama menjadi Jalan Walikota Mustajab No. 36.
Namun, bagi warga lokal dan pecinta kuliner, nama “Ondomohen” sudah terlalu melekat di hati dan lidah, sehingga tetap digunakan hingga sekarang. Begitu sampai, kepulan asap putih dengan aroma daging terbakar dan wangi kelapa menyambut kami dengan brutal.
Wanginya benar-benar menggugah selera! Meski jam sudah menunjukkan waktu yang cukup malam, warung ini masih sangat ramai. Untung saja mereka belum tutup, karena jam operasionalnya memang cukup panjang, dari jam 07.00 sampai 23.00.
Berbagi Meja dan Menunggu Keajaiban
Di sini, jangan harap kamu bisa duduk santai di meja privat yang luas. Warungnya tidak terlalu besar sementara peminatnya tumpah ruah. Jadi, siap-siap saja untuk berbagi meja dengan pengunjung lain. Tapi justru di sinilah letak keseruannya; ada perasaan hangat dan komunal saat kita semua duduk berdekatan demi menikmati sepiring sate legendaris.
Oh ya, satu informasi penting: Sate Klopo Ondomohen Bu Asih ini tidak membuka cabang di tempat lain. Jadi, kalau ada yang mengaku-ngaku cabang mereka di kota lain, jangan langsung percaya ya. Pengalaman aslinya cuma ada di sini, di Jalan Walikota Mustajab.
Kami pun langsung memesan satu porsi sate ayam dan satu porsi sate daging sapi, ditemani dua gelas teh tawar hangat. Belakangan saya baru tahu, ternyata mereka juga punya pilihan sate udang, sumsum, dan usus. Ah, sayang sekali saya baru tahu setelah kenyang!
Mungkin ini alasan buat saya untuk kembali lagi nanti.




Gurihnya Baluran Kelapa dan Rahasia Rasa
Lalu, apa sih yang bikin sate ini beda? Saat pesanan datang, rasa penasaran saya langsung terjawab. Sate ini bukan sate yang dagingnya dicampur kelapa, melainkan irisan daging (ayam atau sapi) yang sebelum dibakar dibalur terlebih dahulu dengan bumbu rahasia yang dicampur parutan kelapa.
Saat dibakar di atas arang, parutan kelapa ini berubah menjadi garing, kecokelatan, dan mengeluarkan minyak alami yang sangat harum. Hasilnya? Tekstur satenya jadi punya “selimut” yang gurih dan sedikit crunchy.
Sate ini disajikan dengan bumbu kacang yang halus, irisan bawang merah segar, dan potongan cabai rawit buat kamu yang suka pedas. Uniknya lagi, nasinya pun disajikan dengan taburan serundeng (kelapa parut goreng). Jadi, ini benar-benar pesta kelapa di dalam mulut!
Menurut lidah saya, sate daging sapinya adalah juara. Dagingnya empuk, tidak alot sama sekali, dan lemaknya menyatu sempurna dengan baluran kelapa. Sate ayamnya juga nggak kalah oke, potongannya daging semua tanpa campuran kulit.
Harga yang Bersahabat di Kantong
Lalu, berapa biayanya?
Karena malam itu saya beruntung ditraktir teman, saya tidak sempat melihat buku menu secara detail. Tapi saat membayar di kasir, total untuk satu porsi sate ayam, satu porsi sate daging sapi, dua porsi nasi, dan dua gelas teh tawar hangat adalah Rp62.000. Untuk ukuran kuliner legendaris di pusat kota, harga ini menurut saya sangat terjangkau dan sebanding dengan rasa yang didapatkan.
Teman saya yang pernah tinggal di Surabaya sempat berbisik, “Rasanya agak beda ya sama zaman dulu, lebih enak yang dulu.”
Tapi bagi saya yang baru pertama kali mencoba, rasanya sudah sangat luar biasa. Mungkin itu hanya faktor nostalgia saja.
Kesimpulan: Wajib Mampir!
Kalau kamu sedang berkunjung ke Surabaya, Sate Klopo Ondomohen Bu Asih ini adalah destinasi yang wajib masuk dalam list kulineran kamu. Bukan cuma soal rasa, tapi soal pengalaman merasakan sejarah kuliner Surabaya dalam satu tusuk sate.
Pastikan kamu datang dengan perut lapar dan siap-siap sedikit bersabar mengantre atau berbagi meja. Percayalah, semua itu akan terbayar lunas begitu gigitan pertama sate gurih ini mendarat di lidahmu.
