My Talkative Son

Diposting pada
Spread the love

Suatu hari  eyang ti nya Azka (my mom) telpon, yang ditanya tentu kabar cucunya yang suka ngobrol (talkative), dan kapan main ke Cilandak?

Aku jawab “In sya allah nanti agak siang main ke Cilandak, memangnya kenapa Yang?

“Sepi”, jawab my mom.

“Kalau ada Azka ramai. Ngoceh mulu Azkanya, jadi ramai rumah eyang.”

my talkative sonAku dan istriku tersenyum. Memang, kami sadari anak pertama kami yang baru berusia 2.5 tahun ini sangat aktif dalam berbicara. Hal apa saja diceritakan atau ditanyakan olehnya.

Ketika berceritapun ia minta didengarkan dan diperhatikan. Bila tidak, ia akan merajuk dan marah.

Walaupun ocehan ceritanya belum begitu jelas, karena masih ada beberapa huruf yang belum bisa ia lafalkan dengan jelas. Seperti B dilafalkan olehnya D, lucunya kalau ditanya siapa ayahnya? Dengan jelas Azka menjawab, “Ayah Bambang.” 😀

Tetapi ketika memanggil ibunya, yang keluar dari mulut mungilnya malah “Ndu”

Motor Ayah Mogok

Pernah suatu hari, Azka naik motor dengan ayahnya ke Gramedia, Pejaten Village . Di tengah perjalanan, motor mogok karena kehabisan bensin.

Sepulangnya dari Pejaten Village, tanpa diminta Azka langsung bercerita pada orang yang pertama kali ditemui, Eyang Utinya, tentu dengan bahasanya, yang terjemahannya gini “Eyang, motor ayah mogok. Bensin habis.  Ayah dorong motor.” 😀 Ketemu Ibunya atau siapa saja, tak lupa dia bercerita terus.

Asyik jadi ramai, tetapi… Ada tetapinya nih, Azka akan tetap ramai sampai menjelang tidur malam. Terkadang kami berdua sudah kelelahan setelah aktifitas seharian, Azka masih dengan semangat 45 nya mengajak bercanda dan ngobrol.

Yang sedikit menjadi concern kami, gimana ke depannya? Karena tidak semua orang suka dengan anak yang bawel, entah itu bawel bercerita atau bertanya.

Gimana nanti di sekolah? Ingat dulu pas sekolah, kalau ada anak yang rajin bertanya, bukan hanya gurunya yang sebal (ketauan dari raut wajah dan nada suara) rekan-rekannya pun banyak yang sebal. 🙂

Atau gimana kalau Azka akan sering ngobrol di kelas? 🙂

Sering juga kami mengadakan permainan DIAM, permainan sederhana sih, siapa yang diam paling lama, maka ia yang jadi pemenangnya. 🙂 Azka cukup antusias, tetapi ia yang selalu kalah. Hihihi…

Azka oh Azka… Celotehmu membuat suasana jadi ceria..

Terimakasih Ya Allah, atas anugrah yang telah Engkau berikan kepada keluarga kecil kami..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.