Pernahkah kamu merasakan sensasi ketika telapak tangan mulai berkeringat di dalam sarung tangan motor, bukan karena panas matahari, tapi karena gairah melihat aspal berkelok yang membentang di depan mata?
Bagi kami, touring bukan sekadar berpindah dari satu koordinat ke koordinat lain. Ia adalah ritual membasuh penat, sebuah cara untuk mencicipi kebebasan di atas roda dua.
Kali ini, radar petualangan kami mengarah ke selatan. Destinasinya adalah sebuah titik di Sukabumi yang namanya selalu mengundang bayangan tentang uap hangat yang mengepul: Cisolok. Namun, seperti yang sering saya katakan kepada teman-teman satu aspal, perjalanan ke Cisolok adalah sebuah paket lengkap.
Ini bukan cuma soal merendam kaki di air hangat, tapi tentang menaklukkan tanjakan Cikidang yang legendaris, mencium aroma laut Pelabuhan Ratu, hingga berakhir dengan pesta durian yang legit.
Bersiaplah, karena saya akan membawa kamu menyusuri setiap tikungan dalam perjalanan ini.
- Titik Awal di Cilandak: Ketika Persaudaraan Bikers Terjalin
- Menyusuri Jalur Alternatif: Keindahan yang Tersembunyi
- Tantangan Cikidang: Menguji Adrenalin di Tengah Hijau Sawit
- Pemandian Air Panas Cisolok: Obat Lelah Alami
- Pengalaman Unik dan Realitas di Cisolok
- Pelabuhan Ratu: Pesta Seafood di Tepi Samudra
- Perjalanan Pulang: Drama Kotak Ikan dan Hilangnya Anggota
- Pesta Durian di Warso Farm: Akhir yang Manis (Bagi Sebagian Orang)
- Kembali ke Realita
Titik Awal di Cilandak: Ketika Persaudaraan Bikers Terjalin

Sabtu pagi, Jakarta masih sedikit menguap ketika satu per satu deru mesin motor mulai memecah kesunyian di sebuah SPBU tak jauh dari Cilandak Commercial Estate. Pukul 08.30 WIB, rombongan kami akhirnya lengkap. Rasanya seperti menyatukan kepingan puzzle; ada wajah-wajah lama yang sudah khatam jalur, dan ada pula semangat-semangat baru yang siap menguji nyali.
Dalam formasi touring, posisi menentukan peran. Sang komandan, Hendri, berada di posisi paling depan sebagai road captain. Sementara saya? Saya memilih posisi sweeper di barisan belakang. Menjadi mata dan telinga rombongan adalah tugas yang saya sukai—memastikan tidak ada kawan yang tertinggal, tidak ada ban yang bermasalah, dan memastikan harmoni konvoi tetap terjaga.
Jalanan Jakarta pagi itu seolah memberi restu. Tidak ada kemacetan horor yang biasanya menghambat. Kami meluncur mulus hingga mencapai Warung Jambu Dua, Bogor. Di sana, kehangatan rombongan bertambah dengan bergabungnya Bro Yadi beserta sang istri. Dengan hadirnya “orang lokal” Bogor, navigasi kami pun terasa kian mantap.
Menyusuri Jalur Alternatif: Keindahan yang Tersembunyi
Bro Yadi benar-benar paham cara memanjakan mata para bikers. Ia mengarahkan kami melalui jalur alternatif via Cipaku. Keputusan ini terbukti sangat tepat! Dibandingkan harus berjibaku dengan jalur utama yang penuh bus dan truk besar, jalur Cipaku menawarkan aspal yang relatif mulus dan lalu lintas yang lengang.
Berkendara di jalur ini membuat kami bisa sedikit lebih santai menikmati hembusan angin pagi. Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB. Suara adzan berkumandang, memanggil kami untuk bersujud sejenak di Masjid An-Nawawi.
Di sini, kami mendapatkan apa yang sering saya sebut sebagai “rezeki anak sholeh”. Setelah melaksanakan shalat Jumat, sebuah kejutan manis menanti. Pengurus masjid dengan ketulusan yang luar biasa menyuguhkan hidangan makan siang sederhana bagi para jamaah, termasuk kami rombongan bikers yang terlihat sedikit berdebu. Kupat Tahu Magelang yang sedap itu menjadi bahan bakar sempurna sebelum kami menghadapi menu utama perjalanan ini: Jalur Cikidang.
Baca juga:
Rafting di Sungai Cicatih/Citatih, Sukabumi
Menikmati sedapnya Kupat Tahu Magelang
Tantangan Cikidang: Menguji Adrenalin di Tengah Hijau Sawit
Jika kamu seorang bikers, jalur Cikidang – Pelabuhan Ratu pasti punya tempat tersendiri di ingatanmu. Jalur ini adalah panggung ujian yang sesungguhnya. Begitu memasuki area perkebunan kelapa sawit yang luas, jalanan mulai berubah karakter. Aspal berkelok-kelok tajam bagai ular yang sedang menari, memaksa kami untuk terus berkonsentrasi pada cornering yang tepat.
Hawa sejuk pegunungan mulai menusuk pori-pori kulit, memberikan kesegaran di tengah deru mesin yang mulai bekerja keras. Sesekali kami melewati papan penunjuk arah menuju wisata arung jeram Citarik, menggoda imajinasi untuk kapan-kapan kembali lagi dan berbasah-ria di sana.
Namun, sekitar 10 kilometer menjelang Pelabuhan Ratu, tantangan yang sebenarnya baru dimulai. Tanjakan di sini tidak main-main—curam dan panjang, membuat mesin motor kami meraung-raung meminta gigi rendah. Begitu pula saat turunan; rem harus bekerja ekstra waspada agar tidak overheat. Beberapa insiden kecil, seperti motor yang hampir selip, sempat mewarnai perjalanan kami. Namun, berkat kewaspadaan dan semangat saling menjaga, semua bisa teratasi tanpa cidera yang berarti.
Pemandian Air Panas Cisolok: Obat Lelah Alami
Setelah berjam-jam bertarung dengan sadel dan tikungan tajam, akhirnya gerbang Pemandian Air Panas Cisolok menyambut kami. Lokasinya berada sekitar 14 kilometer dari pusat kota Pelabuhan Ratu, atau kira-kira 30 menit berkendara santai.
Pemandangan di sini sungguh menenangkan. Hijau pepohonan berpadu dengan uap putih yang mengepul lembut dari kejauhan. Begitu kaki ini menyentuh air hangatnya, rasa pegal di pinggang dan ketegangan di tangan seolah larut bersama aliran air. Sensasi relaksasinya sungguh luar biasa, seakan-akan semua beban perjalanan tersapu bersih dalam sekejap.
Cisolok ini unik. Berbeda dengan banyak pemandian air panas lain yang airnya mengandung belerang tinggi, sumber air panas di sini berasal langsung dari geyser alami yang berada di tengah aliran Sungai Cisolok. Uap airnya menyembur ke atas, menciptakan pemandangan yang dramatis.
Harga tiket masuknya?
Sangat bersahabat, hanya Rp 2.000 per orang (harga saat itu). Tempat ini beroperasi mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WIB.

Pengalaman Unik dan Realitas di Cisolok
Ada hal menarik yang saya temui. Ternyata Cisolok punya daya tarik tersendiri bagi turis asal Korea Selatan. Saat kami tiba, ada rombongan mereka yang baru saja selesai berendam.
Di sini ada dua kolam utama. Menariknya, tidak keduanya bisa digunakan secara bersamaan. Satu kolam biasanya ditutup karena baru saja diisi air panas murni dari sumbernya. “Masih panas benar, Pak, perlu diinapkan semalam,” kata pengelola. Jadi, air yang kita gunakan hari ini adalah air yang sudah mengalami proses pendinginan alami selama satu malam agar suhunya pas untuk tubuh manusia.
Namun, sebagai catatan yang lugas, saya tidak bisa menutup mata terhadap isu kebersihan. Seperti kebanyakan destinasi lokal, masalah sampah dan perawatan fasilitas seperti kamar bilas masih sangat memprihatinkan. Rasanya sayang sekali jika aset alam seindah ini tidak dikelola dengan manajemen yang lebih modern. Harapan saya, ke depan ada perbaikan fasilitas meskipun itu berarti harga tiket harus sedikit dinaikkan.
Di Cisolok ini pulalah kami harus berpamitan dengan Bro Yadi dan istrinya. Mereka harus kembali ke Bogor malam itu juga. Sebuah perpisahan yang manis, karena tanpa bantuan navigasi mereka, perjalanan kami mungkin tidak akan semulus ini.

Pelabuhan Ratu: Pesta Seafood di Tepi Samudra
Malam pun jatuh di Pelabuhan Ratu. Berbeda dengan rencana sebelumnya yang biasanya serba teratur, kali ini kami memilih gaya backpacker. Melirik Grand Inna Samudra Beach Hotel yang megah itu, dompet kami kompak memberikan kode “jangan sekarang”. Hehehe.
Akhirnya, kami menemukan penginapan sederhana yang harganya hanya Rp 50.000 per malam. Sangat hemat! Dengan menyewa tiga kamar untuk tujuh orang, kami sudah mendapatkan tempat tidur yang cukup nyaman dan kamar mandi di dalam.
Setelah mandi dan berganti pakaian, musuh utama kami muncul: rasa lapar yang luar biasa. Tujuan kami sudah bulat, yaitu Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pelabuhan Ratu. Sayangnya, karena kami tiba terlalu malam, pilihan ikan segar sudah mulai berkurang. Namun, kami tidak menyerah. Kami berhasil mengamankan:
- 1 kg Ikan Tongkol
- 1 kg Ikan Kakap
- 2 kg Ikan Marlin
- 0.5 kg Cumi-cumi
Semua itu dibakar dan dimasak dengan bumbu lokal yang menggoda selera. Hasilnya? Kami terlalu ambisius. Karena porsinya yang jumbo, setengah porsi terpaksa kami bungkus untuk sarapan pagi berikutnya. Memang benar kata pepatah, jangan belanja saat perut sedang sangat lapar!

Perjalanan Pulang: Drama Kotak Ikan dan Hilangnya Anggota
Pukul 04.15 pagi, suara adzan dari mushola dekat penginapan sudah membangunkan kami. Kami memang berniat pulang lebih awal untuk menghindari macetnya jalur Sukabumi yang terkenal padat saat siang hari. Sebelum gas pol, kami menyempatkan diri mampir lagi ke TPI untuk membeli oleh-oleh ikan segar buat keluarga di rumah.
Perjalanan pulang berlangsung lebih santai, meski sisa-sisa lelah kemarin masih terasa di bahu. Di tengah jalan, ada kejadian lucu sekaligus mendebarkan. Kotak styrofoam pembungkus ikan milik Pak Nurul tiba-tiba pecah karena guncangan jalan!
Bayangkan, ikan-ikan segar itu hampir saja melakukan “lompatan bebas” ke aspal panas. Untungnya, dengan kesigapan khas bikers, kami berhasil menyelamatkannya.
Namun, kemacetan di Jalan Sukabumi Raya mulai menunjukkan taringnya. Formasi konvoi kami mulai pecah. Saya yang berada di belakang sempat kehilangan jejak Pak Nurul. Setelah berkomunikasi, kami akhirnya bisa berkumpul kembali di pertigaan Caringin. Sialnya, satu anggota kami, Pak Komar, hilang tanpa jejak. Kami mencoba mengejar hingga Ciherang, tapi beliau tetap tidak terlihat.
Padahal, beliau adalah orang yang paling bersemangat untuk mampir ke destinasi terakhir kami: Warso Farm.
Pesta Durian di Warso Farm: Akhir yang Manis (Bagi Sebagian Orang)
Dengan formasi yang tersisa enam motor, kami pun tiba di Warso Farm. Tempat ini adalah surga bagi para pecinta durian. Sebenarnya saat berangkat kami sudah berniat mampir, tapi baru tahu kalau Warso Farm tutup setiap hari Jumat. Jadi, kunjungan saat pulang ini adalah penebusan dendam.
Tiga buah durian berukuran besar ludes disantap oleh lima orang. Mengapa lima? Karena saya termasuk dalam kelompok minoritas yang kurang menyukai aroma tajam buah eksotis ini. Bagi kawan-kawan saya, durian itu terasa seperti mentega yang manis. Bagi saya? Baunya saja sudah cukup membuat kepala pening. Sambil melihat mereka “berpesta”, saya hanya bisa tersenyum sambil menikmati suasana kebun yang asri.
Sangat disayangkan Pak Komar tidak ada di sana. Beliau pasti akan menjadi orang pertama yang menghabiskan satu buah sendirian jika tidak terpisah dari rombongan.

Kembali ke Realita
Setelah puas menikmati durian (dan pusingnya saya sudah sedikit reda), kami melanjutkan perjalanan hingga Jalan Batutulis, Bogor. Di sinilah formasi benar-benar pecah untuk kembali ke rumah masing-masing. Hanya tersisa tiga motor: saya, Pak Nurul, dan Khamam yang terus melaju hingga perempatan Juanda, Depok.
Alhamdulillah, senja membawa kami kembali ke rumah masing-masing dengan selamat. Tubuh memang terasa sangat lelah, tapi hati terasa penuh. Touring ke Cisolok ini membuktikan satu hal: perjalanan terbaik bukan hanya tentang tujuannya, tapi tentang siapa yang ada di samping kamu saat melewati tantangan, dan bagaimana kamu menertawakan hal-hal kecil di sepanjang jalan.
Cisolok memberikan kami kehangatan geyser, Cikidang memberikan kami adrenalin, dan Pelabuhan Ratu memberikan kami rasa persaudaraan yang kian erat melalui meja makan. Jika kamu punya waktu luang dan motor yang sehat, jangan ragu untuk mengarahkan stang motormu ke arah selatan Jawa Barat ini.
Nah, kalau kamu, punya pengalaman seru apa saat touring ke Sukabumi? Atau mungkin kamu punya rute alternatif yang lebih menantang? Yuk, kita berbagi cerita di kolom komentar!

