Anakku sayang, pernahkah kamu sadar?
Dalam diam, tanpa sadar kita sering menjadi ‘Hakim Ulung’ yang paling tajam. Mata kita ini, masya Allah, seolah punya teknologi scan super canggih. Langsung terfokus pada titik-titik lemah, kekurangan, atau ‘kesalahan’ orang lain. Seakan-akan, hidup kita sendiri sudah paripurna, tanpa cela seujung kuku pun.
Benar, kan?
Kita ini gampang sekali mengayunkan palu keputusan. Sebuah komentar pedas, sebuah penilaian singkat, sebuah vonis atas setiap langkah, bahkan setiap napas yang mereka ambil. Kadang, kita bertingkah layaknya Tuhan yang tahu seluruh skenario, isi hati, dan peta perjalanan hidup seseorang.
💔 Beban di Balik Senyuman: Jalan Terjal yang Tak Terlihat
Tapi, Anakku…
Tahan sejenak! Jangan buru-buru jadi juri. Kau tak akan pernah tahu seberapa berat beban yang dipikul di balik senyum yang kau lihat di media sosial atau bahkan di depan matamu.
Coba renungkan:
- Jalan yang mereka pijak—mungkin jauh lebih terjal, curam, dan penuh duri tak terlihat oleh mata telanjangmu.
- Beban yang mereka pikul—mungkin jauh lebih berat dari gunung mana pun yang pernah kamu bayangkan.
- Luka yang mereka sembunyikan—mungkin jauh lebih perih dari sayatan pisau paling tajam sekalipun.
Kita ini seringkali lupa, Nak. Setiap orang punya cerita sunyi, punya pergulatan batin, dan punya perjuangan rahasia yang tak akan pernah kita mengerti sepenuhnya. Kita tidak tahu seberapa banyak air mata yang mereka tumpahkan di balik tawa palsu itu. Kita tidak tahu seberapa keras mereka mencoba untuk tetap bertahan di tengah badai kehidupan.
👣 Sebelum Menghakimi, Coba Kenakan Sepatunya
Maka dari itu, pesan Ayah/Ibu: Jangan sampai kita menjadi orang yang begitu mudah memberi penilaian, seolah hidup kita sudah mencapai level kesempurnaan.
Sungguh, Nak, percayalah. Mungkin saja kita tidak akan sanggup berjalan di jalan yang sama. Mungkin saja, kita akan roboh di langkah pertama kalau kita ada di posisi mereka.
Jadi, sebelum bibirmu terbuka untuk menghakimi atau jari-jarimu mengetik komentar yang menyakitkan…
Coba lakukan ini dulu:
- Kenakan sepatunya.
- Rasakan setiap langkah yang ia pijak.
- Bayangkan beban yang ia gendong.
Barulah kita bisa mengerti, Nak. Barulah kita bisa merasakan. Dan barulah kita bisa belajar untuk memiliki empati yang tulus. Karena, Nak, dunia tidak butuh lebih banyak hakim, tapi butuh lebih banyak orang yang mau mengerti dan mendukung.
