Matahari siang itu seolah sedang memamerkan kekuatannya. Aspal jalanan Jakarta Selatan memantulkan uap panas yang cukup untuk membuat siapa pun lebih memilih berdiam diri di bawah hembusan AC. Namun, ada sepasang mata kecil yang berbinar, mengalahkan teriknya sang surya.
“Duh, anak ini kalau sudah punya keinginan memang harus segera dituruti,” gumamku dalam hati.
Si kecil, putra saya, sedang sibuk memandangi akuarium kosong di sudut ruangan. Hobi yang dulu sempat meredup—mungkin tertutup oleh tumpukan tugas sekolah atau gawai—kini menyala kembali dengan api yang lebih besar. Kali ini, targetnya spesifik: Ikan Channa Auranti.
Meski di rumah sudah ada Channa Blue Pulchra yang dibelinya secara daring, ia tetap saja ‘khilaf’. Begitu melihat sosok Channa Auranti saat sedang membeli pakan ikan, ia langsung jatuh hati dan kepincut.
Jujur saja, sebagai seorang Ayah, awalnya saya sempat mengerutkan kening.
“Ikan apa itu? Kayak ikan gabus di pasar ya?” tanya saya polos.
Ia hanya tertawa kecil, sebuah tawa yang seolah mengatakan, “Ayah, ini bukan sekadar ikan konsumsi!”
Baca Juga : Keliling Taman Mini Indonesia Indah Gratis
Dari “Ikan Sayur” Menjadi “Ikan Sultan”
Rasa penasaran membawa saya berselancar di mesin pencari. Betapa terkejutnya saya saat mengetahui bahwa Channa sebenarnya adalah nama ilmiah dari keluarga ikan gabus. Namun, lupakan citra ikan gabus yang biasanya berakhir di dalam kuali dan jadi makanan seperti gabus pucung.
Channa Auranti (Channa aurantimaculata) adalah primadona dari lembah Sungai Brahmaputra di Assam, India. Ikan ini bukan sembarang predator air tawar. Mereka memiliki corak tubuh berwarna jingga keemasan (itulah mengapa disebut Auranti) yang kontras dengan warna dasar gelap kebiruan.
Yang membuat si kecil begitu terobsesi bukan hanya kecantikannya, melainkan karakternya. Ikan ini dikenal cerdas, memiliki insting teritorial yang kuat, dan bisa “berinteraksi” dengan pemiliknya melalui kaca akuarium. Inilah yang membuat Channa dijuluki sebagai pet fish yang sejati.
Strategi “Dua Rumah”: Antara Cucu dan Eyang
Ada satu hal unik dari cara si kecil menjalani hobinya. Ketika pertama kali memulai honi ini, ia tidak hanya memelihara ikan di rumah kami, tapi juga menitipkan beberapa “koleksinya” di rumah Eyangnya.
Awalnya saya pikir itu hanya karena keterbatasan lahan akuarium di rumah. Ternyata, alasannya jauh lebih manis sekaligus cerdik.
“Biar kalau aku menginap di rumah Eyang, aku tetap bisa lihat ikan-ikanku beraksi, Yah,” katanya sambil tersenyum.
Bagi saya, ini adalah cara dia menciptakan kenyamanan di mana pun ia berada. Di sisi lain, Eyangnya pun merasa terhibur. Kehadiran akuarium di rumah Eyang menjadi jembatan komunikasi antara kakek-nenek dan cucunya. Setiap kali video call, topik pembicaraannya bukan lagi soal nilai sekolah, melainkan, “Ikan yang di sini sudah mau makan udang belum?”
Perjalanan Menuju Sultan Aquatic Bird Shop
Demi menuruti semangat yang sedang berkobar itu, kami pun bersiap. Jaket dikenakan, helm dikancingkan. Kami memutuskan memacu sepeda motor menuju sebuah tempat yang sudah menjadi buah bibir di kalangan penghobi ikan hias di Jakarta Selatan: Sultan Aquatic Bird Shop.
Lokasinya berada di Jalan Komplek Kavling DKI, Cipedak, Jagakarsa. Perjalanan dari rumah terasa menyenangkan meski peluh mulai menetes. Di sepanjang jalan, si kecil tak henti-hentinya bercerita tentang perbedaan Channa lokal dengan Channa luar negeri.
“Ayah tahu nggak? Kalau Channa Limbata itu asli Indonesia, tapi kalau Auranti ini jauh, Yah, dari India yang dingin. Jadi airnya nggak boleh terlalu panas,” celotehnya layaknya seorang ahli biologi cilik. Saya hanya manggut-manggut, kagum betapa hobi bisa membuat seorang anak belajar begitu detail tentang geografi dan ekosistem.
Mengapa Harus Channa Auranti?

Sembari menembus kemacetan kecil di Jagakarsa, saya sempat bertanya dalam hati, kenapa harus Auranti? Setelah riset kecil-kecilan, saya menemukan beberapa fakta yang memang masuk akal kenapa ikan ini begitu dicari:
- Warna yang Eksotis: Perpaduan garis kuning/jingga pada tubuhnya sangat mencolok.
- Ketahanan Fisik: Sebagai keluarga gabus, mereka punya organ labirin yang memungkinkan mereka mengambil oksigen langsung dari udara.
- Investasi Kebahagiaan: Meski harganya tidak bisa dibilang murah, kepuasan saat melihat ikan ini tumbuh besar dan mulai “flaring” (mengembangkan sirip saat merasa terancam atau berinteraksi) adalah stress relief yang luar biasa.
Berapa sih harga Channa Auranti saat ini? Di pasaran, harganya sangat bervariasi tergantung ukuran dan kualitas warnanya. Untuk ukuran juvenile (remaja) sekitar 15-20 cm, harganya bisa berkisar antara Rp 750.000 hingga Rp 1.500.000. Namun, jika sudah masuk kategori “kontes” dengan warna yang solid dan mental yang berani, harganya bisa melambung jauh lebih tinggi. Bagi si kecil, ini adalah pelajaran tentang menghargai nilai dari sebuah makhluk hidup.
Sampai di Titik Tujuan: Surga di Jagakarsa

Begitu sampai di Sultan Aquatic Bird Shop, rasa lelah karena panas matahari seolah sirna. Tempat ini bukan sekadar toko ikan biasa. Bau harum kayu, suara burung yang bersahutan (karena mereka juga menyediakan burung kicau), dan jajaran akuarium bersih menyambut kami.
Si kecil langsung melesat menuju deretan akuarium khusus Channa. Di sana, Auranti-Auranti cantik itu tampak sedang “berpatroli” di dalam tangki mereka. Pemilik toko di Sultan Aquatic sangat ramah; mereka tidak hanya menjual, tapi juga mengedukasi.
Kami diajari cara memilih ikan yang sehat:
- Lihat matanya, harus jernih, tidak boleh ada selaput putih.
- Perhatikan sirip-siripnya (dorsal), pastikan tidak ada yang robek atau terkena jamur.
- Yang terpenting: Mentalnya. Masukkan jari ke dekat kaca, ikan yang bagus akan langsung merespons dengan rasa ingin tahu, bukan malah ketakutan dan bersembunyi.
Pelajaran dari Balik Kaca Akuarium
Setelah proses pemilihan yang cukup alot—karena semua ikannya bagus-bagus—akhirnya jatuhlah pilihan pada satu ekor Auranti yang memiliki rona jingga paling tajam. Senyum si kecil saat itu? Tak ternilai harganya.
Dalam perjalanan pulang, saya merenung. Menuruti hobi anak terkadang memang butuh usaha ekstra, baik waktu maupun materi. Namun, ada pelajaran besar di balik hobi memelihara Channa ini:
- Tanggung Jawab: Ia belajar bahwa ada nyawa yang bergantung pada kedisiplinannya memberi makan dan menguras air.
- Kesabaran: Ikan ini tidak langsung menjadi cantik dalam semalam. Butuh proses treatment yang sabar.
- Koneksi: Hobi ini menyatukan kami. Kami punya topik diskusi baru di meja makan.
Siang yang terik itu berakhir dengan sebuah akuarium baru yang kini terisi penghuni dari India. Jagakarsa menjadi saksi kembalinya semangat seorang anak kecil pada hobinya. Dan bagi saya, melihatnya belajar mencintai alam—meski hanya dari balik kaca—adalah sebuah kebahagiaan yang cukup untuk membayar semua rasa lelah.
Tips bagi Ayah yang ingin menemani anaknya ke Sultan Aquatic:
- Pastikan datang saat toko baru buka atau sore hari agar tidak terlalu panas.
- Jangan sungkan bertanya pada penjaga toko tentang setting air (pH dan suhu), karena Channa Auranti butuh air yang cenderung sejuk.
- Bawa wadah atau styrofoam sendiri jika rumah Anda cukup jauh agar suhu ikan tetap terjaga selama perjalanan.
Apakah si kecil Anda juga sedang memulai hobi baru? Ceritakan di kolom komentar, yuk! Siapa tahu kita bisa berbagi tips tentang “dunia per-ikanan” ini.
