Dunia terasa berhenti berputar ketika pandemi Covid-19 menghantam beberapa tahun lalu. Bagi banyak orang, pandemi mungkin berarti tentang masker dan jarak sosial. Namun bagiku, pandemi berarti terputusnya sebuah rutinitas sakral yang sudah menjadi napas bagi kesehatanku: bekam bulanan.
Dulu, bekam adalah momen self-care wajib. Tubuh yang pegal dan kepala yang berat biasanya langsung terasa ringan setelah darah kotor dikeluarkan melalui cangkir-cangkir kaca itu.
Namun, ketakutan akan kontak fisik dan statusku sebagai penyandang komorbid membuatku menarik diri. Klinik-klinik langganan pun banyak yang membatasi operasional. Alhasil, tubuh ini harus menanggung beban “rindu” yang menumpuk selama berbulan-bulan.
Hingga suatu Minggu, rindu itu mencapai puncaknya. Niat hati ingin memacu kendaraan menuju BRC Pasar Minggu—tempat langgananku—namun apa daya, sakit kepala mendadak menyerang dengan hebatnya. Jangankan menyetir, bangkit dari tempat tidur saja rasanya bumi sedang berputar. “Ah, sepertinya rencana bekam hari ini gagal lagi,” keluhku dalam hati.
Inovasi di Ujung Jari: Berkenalan dengan Klik-BRC

Di tengah keputusasaan itu, seorang teman memberikan secercah harapan. “Coba cek aplikasinya atau webnya, sekarang BRC bisa dipanggil ke rumah!” serunya melalui telepon.
Tanpa pikir panjang, aku meraih ponsel. Ternyata, BRC (Bekam Ruqyah Center) telah beradaptasi dengan sangat apik di era new normal ini. Mereka menyediakan sistem pendaftaran online melalui situs www.klik-brc.com dan aplikasi di Google Play Store.
Proses pendaftarannya pun sangat intuitif dan “nggak pakai ribet”. Kita cukup memilih cabang terdekat, jenis terapi, serta hari dan jam yang diinginkan. Menariknya, jika kita memilih layanan datang ke klinik, pilihannya sangat lengkap—mulai dari ruqyah, terapi detoks, terapi lintah, hingga bekam anak. Namun, khusus untuk layanan di rumah (home service), pilihannya memang dikhususkan untuk terapi bekam saja.
Untuk waktu kunjungannya, mereka menyediakan slot yang cukup fleksibel, dari jam 09.00 pagi hingga jam 20.00 malam. Setelah mengisi data diri dan menekan tombol “Booking Sekarang”, sebuah notifikasi muncul. Tak lama kemudian, sebuah pesan WhatsApp masuk mengonfirmasi jadwal. Praktis, tanpa perlu antre berjam-jam di klinik.
Senja, Aroma Tanah Basah, dan Janji Kesembuhan
Minggu malam itu, jarum jam hampir menyentuh angka tujuh. Langit Jakarta masih menyisakan aroma tanah basah setelah diguyur hujan sore tadi. Suasana syahdu itu terinterupsi oleh getaran ponsel di atas meja.
“Selamat malam, Bapak. Saya terapis dari BRC. Insya Allah, kami akan tiba setelah salat isya,” tulis pesan itu.
Kalimat sederhana itu entah mengapa terasa begitu menenangkan. Di dunia yang penuh ketidakpastian ini, mengetahui ada seseorang yang sedang menempuh perjalanan untuk membantumu merasa lebih baik adalah sebuah kemewahan. Terapis tersebut hadir layaknya kunang-kunang di tengah kegelapan malam, membawa harapan akan tubuh yang kembali bugar.
Sambil menunggu, aku sempat bertanya mengenai tarif. Ternyata, biaya untuk layanan di rumah sangat transparan: Rp150.000 untuk 11 titik bekam utama. Jika kita ingin menambah titik, dikenakan biaya tambahan Rp5.000 per titik—sama persis dengan tarif di klinik. Yang membuatku terkejut adalah soal ongkos transportasi. Karena rumahku masih dalam jangkauan layanan mereka, ongkos jalan digratiskan. Benar-benar sebuah pelayanan yang memanusiakan pasien.

Ritual di Ruang Tamu: Dialog antara Darah dan Keingintahuan
Setelah Isya, sang terapis tiba dengan seragam rapi dan protokol kesehatan yang terjaga. Alat-alat dikeluarkan, dan ritual penyembuhan pun dimulai. Tidak ada yang berubah dari prosedurnya; semuanya tetap seprofesional di klinik.
Sapu rotan itu mulai bekerja. Ia menari-nari kecil di atas kulitku, memukul lembut (meski jujur, ada beberapa bagian yang rasanya lumayan “mantap”). Di tengah proses itu, putra kecilku, Azka, mendekat. Biasanya ia akan bersembunyi di balik pintu, mengintip dengan mata bulat penuh ketakutan setiap kali melihat alat-alat medis. Namun malam ini berbeda.
“Sakit tidak, Ayah?” tanya Azka dengan nada polos.
“Ini apa namanya?” sambungnya lagi sambil menunjuk cangkir bekam yang mulai terisi kemerahan. “Darahnya banyak sekali, Ayah…”
Setiap pertanyaannya seperti bintang jatuh yang menerangi suasana hening malam itu. Sang Akang terapis, dengan kesabaran luar biasa, menjawab setiap rentetan pertanyaan Azka sambil tetap fokus bekerja. Saya meminta maaf atas “gangguan” kecil ini, namun sang terapis hanya tersenyum tulus, memahami bahwa rasa ingin tahu anak-anak adalah hal yang murni.
“Rekam Ayah, Mas,” pintaku pada Azka agar ada dokumentasi untuk blog ini. Ia menggeleng cepat dengan bibir mengerucut. “Tidak mau.”
Rupanya, meski rasa takutnya mulai pudar, ia tetap enggan mengabadikan momen darah yang keluar itu. Baginya, mungkin itu terlalu nyata, terlalu intim untuk direkam. Akhirnya, dengan tangan mungilnya, ia hanya mengambil satu foto saja. Cukup satu potret yang bisu, namun bagi kami, itu menyimpan ribuan cerita tentang perhatian seorang anak kepada ayahnya.
Catatan Kecil dari Sebuah Perjalanan
Hidup memang seperti air sungai yang tak pernah berhenti mengalir; ia akan selalu mencari jalan baru ketika terhambat. Layanan home service BRC adalah bukti inovasi tersebut. Namun, tentu saja tidak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini.
Sebagai masukan, aplikasi BRC di ponsel saat ini masih terasa agak “berisik” dengan iklan-iklan yang muncul secara pop-up. Seperti lalat yang berputar-putar, terkadang mengganggu konsentrasi saat kita sedang fokus melakukan pemesanan.
Selain itu, kondisi fisikku malam itu ternyata sedang tidak bersahabat sepenuhnya. Sakit perut yang tiba-tiba menyerang membuat proses bekam harus terhenti beberapa kali karena saya harus bolak-balik ke kamar mandi.
“Maafkan saya ya, Kang, jadi terhambat begini,” kataku merasa tidak enak.
“Tidak apa-apa, Pak. Santai saja,” jawabnya dengan senyum yang tak pudar.
Kesabaran sang terapis dan kemudahan layanan ini menjadi pengingat bahwa di balik segala kesulitan pandemi dan tantangan kesehatan, selalu ada kebaikan yang menanti. Jika kamu merasa lelah, sakit kepala, atau sekadar ingin membuang “beban” dalam darah namun enggan keluar rumah, layanan bekam di rumah dari BRC adalah pilihan yang sangat layak dicoba.
Kadang, kesembuhan memang tidak perlu dikejar jauh-jauh ke luar sana. Kadang, ia cukup diketuk melalui layar ponsel, dan ia akan datang sendiri mengetuk pintu rumahmu.
*** Ringkasan Informasi:
- Website: www.klik-brc.com
- Tarif Home Service: Rp150.000 (11 titik), tambahan Rp5.000/titik.
- Waktu Layanan: 09.00 – 16.00 & 17.00 – 20.00.
- Kelebihan: Praktis, terapis ramah, harga transparan.
- Kekurangan: Aplikasi masih banyak iklan, layanan rumah terbatas hanya untuk bekam.

Semga bermanfaat bagi orang banyak
Aku mau di bekam daerah Kiaracondong dimana