Drama Kirim Baht: Pengalaman Seru (dan Melelahkan) Transfer Uang ke Thailand

Drama Kirim Baht: Pengalaman Seru (dan Melelahkan) Transfer Uang ke Thailand 2
Gambar oleh Анатолий dari Pixabay

Pernah nggak sih kamu merasa bahwa dunia perbankan itu sudah sangat canggih sampai-sampai kirim uang ke luar negeri tinggal sekali klik? Well, itu benar kalau kamu kirimnya dalam Dollar (USD) atau Euro.

Tapi, ceritanya bakal berubah 180 derajat kalau mata uang yang kamu tuju adalah Thailand Baht (THB)

Drama Kirim Baht: Pengalaman Seru (dan Melelahkan) Transfer Uang ke Thailand 3

Beberapa bulan belakangan ini, pekerjaan saya di kantor menuntut saya untuk rutin berhubungan dengan relasi di Bangkok, Thailand. Urusannya apalagi kalau bukan bayar invoice dalam mata uang Baht.

Ternyata, oh ternyata, urusan transfer ke Negeri Gajah Putih ini nggak semudah membalikkan telapak tangan. Ada “drama” konversi ganda hingga antrean panjang yang harus saya lalui. Yuk, simak pengalaman saya bongkar-pasang cara transfer THB lewat dua bank besar: Mandiri dan BCA!

Baca juga: Pengalaman Terbang Bersama Citilink Jakarta – Medan

Kenapa Transfer Baht itu Rumit?

Mungkin kamu bertanya-tanya, “Emang nggak bisa ya dari Rupiah langsung jadi Baht?” Jawabannya: Hampir nggak bisa di bank lokal.

Masalah utamanya adalah mata uang Baht kurang begitu populer dibandingkan USD. Akibatnya:

  1. Tidak semua bank melayani: Banyak kantor cabang kecil yang angkat tangan kalau ditanya soal Baht.
  2. Konversi Ganda (Multi-Currency): Bank di Indonesia biasanya akan mengubah Rupiah (IDR) kamu menjadi Dollar (USD) dulu, baru kemudian dikonversi lagi menjadi Baht (THB). Kebayang kan ada berapa banyak selisih kurs yang “menguap” di jalan?

Pengalaman 1: Setia (tapi Lelah) di Bank Mandiri

Karena rekening utama perusahaan tempat saya bekerja ada di Bank Mandiri, maka layanan Outgoing Transfer (OTR) mereka adalah pilihan pertama. Karena ini transaksi atas nama perusahaan, persiapannya harus ekstra rapi.

Dokumen “Tempur” yang Harus Dibawa:

Jangan harap bisa datang cuma bawa badan. Untuk giro perusahaan, saya harus menyiapkan:

  • Cek (Cheque): Yang nilainya baru bisa diisi di depan teller setelah kalkulasi kurs keluar.
  • Surat Pernyataan Transfer Valas: Lengkap dengan materai.
  • Surat Pernyataan Keterlambatan: Jika invoice sudah lewat jatuh tempo (due date).
  • Dokumen Legalitas: Fotokopi NIB/SIUP, NPWP Perusahaan, hingga KTP direktur (penandatangan cek).

Realita di Lapangan

Di KCP Mandiri tempat kami membuka rekening, tidak ada teller khusus valas. Saya harus ikut antrean umum untuk transaksi di atas Rp25 juta. Masalahnya, antrean ini biasanya berisi orang-orang yang bawa tumpukan transaksi.

Hasilnya? Lama banget! Saya harus pintar-pintar cari waktu (biasanya pagi sekali) supaya nggak “lumutan” nunggu dipanggil. Untuk biayanya, Mandiri mengenakan Rp35.000 plus biaya Full Amount sebesar USD 30.

Apa itu Full Amount? Sederhananya, ini adalah biaya agar penerima di Thailand menerima uang dalam jumlah utuh sesuai invoice. Kalau kita nggak pakai layanan ini, uang yang diterima di sana bakal dipotong biaya bank koresponden. Kasihan kan relasi kita kalau uangnya berkurang.

Baca Juga : Pengalaman Transfer Euro Dengan Octo Mobile

Pengalaman 2: Penyelamatan Darurat via Bank BCA

Suatu hari, muncul kondisi darurat. Bos sedang di luar kota, sementara stok cek yang sudah ditandatangani habis total. Padahal, relasi di Thailand sudah menagih-nagih, dan Pak Direktur minta hari itu juga harus terkirim. Panik? Jelas.

Akhirnya saya ambil jalan pintas: saya pindahkan dana perusahaan ke rekening BCA pribadi saya lewat internet banking. Setelah itu, saya meluncur ke kantor cabang BCA terdekat.

Kejutan di Pintu Masuk

Berbeda dengan pengalaman di bank sebelumnya, di BCA saya langsung disapa Satpam yang sigap. Setelah tahu saya mau transaksi valas, saya langsung diarahkan ke Teller Khusus.

Ternyata, transaksi valas di BCA sering kali diprioritaskan. Alasannya masuk akal: bursa valas punya jam tutup yang lebih cepat (biasanya jam 12.00 siang selama pandemi). Saya nggak perlu antre lama! Prosesnya pun transparan; teller langsung menghitung kurs IDR ke USD, lalu USD ke THB di depan saya.

Dokumen Lebih Ringkas

Karena ini akun pribadi, dokumennya jauh lebih simpel. Saya cuma diminta tanda tangan Surat Pernyataan di atas materai. Biaya pengirimannya pun sedikit lebih bersahabat: Rp50.000 (biaya telex) plus USD 20 untuk layanan Full Amount.

Semua langsung dipotong dari saldo di Paspor BCA saya.

Mandiri vs BCA: Mana yang Lebih Juara?

Kalau bicara soal kecepatan dan kenyamanan, jujur saja, pengalaman saya di Bank BCA jauh lebih unggul. Antrean yang diprioritaskan dan proses yang lebih cepat sangat membantu saat kita sedang dikejar deadline.

Namun, kalau bicara soal kepatuhan administrasi perusahaan, mau tidak mau saya harus tetap setia menggunakan Bank Mandiri. Menggunakan rekening perusahaan jauh lebih rapi untuk urusan pembukuan dan audit pajak di akhir tahun, meskipun konsekuensinya saya harus rela “bertapa” lebih lama di kursi antrean.

Tips Buat Kamu yang Mau Transfer Baht:

  1. Datanglah Pagi: Transaksi valas punya batas waktu (cut-off time). Lewat jam 12 siang, kemungkinan besar transaksi kamu baru diproses besok.
  2. Cek Kurs Hari Itu: Karena ada konversi ganda (IDR-USD-THB), pastikan kamu punya saldo lebih di rekening untuk menutup selisih kurs yang fluktuatif.
  3. Layanan Full Amount: Selalu pilih opsi ini supaya hubungan bisnismu tetap harmonis karena mitra kamu menerima uang dalam jumlah bulat.

Transfer valas memang butuh kesabaran ekstra, apalagi untuk mata uang “eksotis” seperti Baht. Tapi setidaknya, sekarang kamu sudah punya gambaran bank mana yang paling sesuai dengan kebutuhanmu.

Punya pengalaman serupa atau tahu aplikasi yang lebih murah buat kirim Baht? Share di kolom komentar ya! Siapa tahu bisa jadi solusi buat drama transfer saya berikutnya. 😉

Tinggalkan Balasan

*