Dua tahun lalu, sebuah vonis datang menghampiri hidup saya, persis seperti senja yang tiba-tiba berubah menjadi mendung pekat tanpa peringatan. Dokter mengucapkan tiga kata yang mengubah segalanya: Gagal Ginjal Kronis.
Saat itu, rasanya seperti dunia berhenti berputar sejenak. Dan di sinilah saya sekarang, berdiri di depan pintu HCU (High Care Unit) RSUP Fatmawati—sebuah gerbang yang memisahkan antara keputusasaan dan perjuangan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Hidup memang penuh kejutan. Kadang manis seperti janji masa muda, namun kadang pahit seperti kopi yang terlalu lama diseduh dan tertinggal di dasar cangkir. Tubuh saya, yang selama ini saya anggap kuat, ternyata sedang “kebanjiran”.
Saat tiba di IGD, timbangan menunjukkan angka 72 kg. Dokter menatap saya dengan tatapan serius namun tenang, “Kita harus mengeluarkan 20 kg cairan dari tubuh Bapak.”
Bayangkan, 20 kg air. Itu setara dengan lebih dari satu galon besar air mineral yang terjebak di dalam jaringan tubuh saya. Pantas saja dada ini terasa seperti dihimpit beton, sesak yang mencekik setiap helaan napas.
Air itu tidak punya tempat untuk pergi, sehingga ia menekan paru-paru dan jantung, memaksa organ-organ vital saya bekerja di ambang batasnya.
Musuh dalam Selimut: Diabetes Tak Terkontrol
Jika ditanya apa penyebabnya, jawabannya adalah sebuah penyesalan besar yang saya bawa hingga hari ini. Gagal ginjal yang saya derita adalah buah dari diabetes tak terkontrol—musuh dalam selimut yang selama bertahun-tahun diam-diam menggerogoti tubuh saya.
Gula darah yang tinggi dalam waktu lama bertindak layaknya racun yang mengalir dalam pembuluh darah. Ia merusak unit penyaring kecil di ginjal yang disebut glomerulus. Kerusakan itu bermula dari retakan kecil yang saya abaikan, hingga akhirnya menjadi lubang besar yang menghentikan fungsi ginjal sepenuhnya. Ginjal saya, sang penyaring kehidupan, kini telah menyerah kalah.
Saya mengakui keangkuhan saya di masa lalu. Saya terlalu percaya diri, menganggap remeh angka-angka gula darah yang sering kali “merah”. Saya malas kontrol rutin, hanya menelan obat tanpa benar-benar memahami apa yang sedang terjadi di dalam diri.
Saya seperti nakhoda yang mengabaikan kompas di tengah badai, membiarkan kapal saya terombang-ambing hingga akhirnya nyaris karam. Penyesalan memang selalu datang belakangan, tapi saya berjanji pada diri sendiri untuk menjadi nakhoda yang lebih bijaksana bagi tubuh ini di masa depan.
Baca Juga : Divonis Diabetes Tipe 2
Mengenali Gejala: Saat Tubuh Mulai Berteriak
Penurunan fungsi ginjal saya sebenarnya sudah terdeteksi sejak dua tahun lalu melalui Medical Check Up (MCU) kantor. Tanda yang paling nyata adalah adanya protein dalam urine. Banyak rekan saya yang salah kaprah dan menganggap urine berbuih adalah tanda kelebihan gula.
Faktanya, buih yang tidak hilang setelah disiram itu adalah protein yang “bocor” karena penyaring ginjal sudah rusak.
Selain urine berbuih, tubuh saya mulai memberikan sinyal-sinyal lain yang menyiksa:
- Volume Buang Air Kecil Berkurang: Meski saya minum dalam jumlah normal, air yang keluar sangat sedikit.
- Pembengkakan (Edema): Kaki dan pergelangan kaki saya membengkak seperti balon.
- Gatal yang Luar Biasa: Kulit terasa gatal hingga meninggalkan bekas hitam. Ternyata, ini adalah tanda penumpukan racun (ureum) dalam darah.
- Sesak Napas Saat Berbaring: Kondisi ini disebut edema paru. Saya harus tidur menggunakan 3-4 bantal yang ditumpuk agar bisa bernapas. Rasanya seperti tenggelam di daratan.
Dokter sempat berupaya mengganti obat hingga mengharuskan saya suntik insulin. Namun, angka GFR (Glomerular Filtration Rate) saya terus terjun bebas hingga menyentuh angka 11%.
Apa itu GFR? Bayangkan GFR sebagai indikator kecepatan kerja penyaring di ginjalmu. Orang normal memiliki angka 90-120 mL/menit. Di angka 11%, saya dinyatakan berada di Stadium 5—stadium akhir. RSUP Fatmawati menjadi benteng terakhir saya. Para dokter di sana awalnya mencoba segala cara agar saya tidak perlu menjalani hemodialisa (cuci darah), namun tubuh saya sudah mencapai titik jenuhnya. Saya membengkak, sesak, dan akhirnya saya menyerah. Bukan menyerah untuk hidup, tapi menyerah pada ego saya untuk menerima kenyataan bahwa saya butuh bantuan mesin untuk bertahan.
Malam yang Mengubah Segalanya: Perjalanan ke IGD
Sabtu malam, 17 Maret 2023, menjadi titik balik. Napas saya sudah pendek-pendek. Setiap tarikan udara terasa sangat mahal harganya.
Saya meminta keluarga mengantar saya ke IGD RS Sibroh Malisi sebagai langkah darurat. Di sana, tim medis bergerak bak pasukan penyelamat. Alat bantu napas dipasang, darah diambil, dan hasilnya keluar: Saya harus segera menjalani hemodialisa.
Karena RS Sibroh tidak memiliki fasilitas tersebut, saya harus dirujuk. Malam itu juga, ditemani Eyang Ti—sosok pelindung keluarga yang luar biasa—saya dipindahkan ke RSUP Fatmawati.
Anak kecil saya, si permata hati Azka, terpaksa dititipkan di rumah adik. Dalam taksi online yang membelah malam, saya hanya bisa menatap langit, memohon pada Sang Pencipta agar diberikan satu lagi kesempatan untuk melihat matahari esok pagi.

Lorong-Lorong HCU RSUP Fatmawati

IGD RSUP Fatmawati adalah lautan manusia malam itu. Penuh sesak. Namun, karena kondisi saya yang kritis, saya segera mendapatkan penanganan. Serangkaian tes mulai dari rontgen paru, EKG jantung, hingga tes darah lengkap dilakukan dalam waktu singkat.
Keputusannya bulat: Saya harus masuk ke ruang HCU (High Care Unit).
Dua minggu di ruang HCU adalah pengalaman spiritual yang sangat membekas. Di sana, saya menjalani operasi pemasangan CDL (Catheter Double Lumen)—sebuah akses berupa selang di leher yang menghubungkan pembuluh darah saya langsung ke mesin cuci darah.
Proses hemodialisa pertama adalah momen yang mengharukan. Pelan-pelan, 20 kg cairan itu dikeluarkan dalam beberapa sesi. Setiap kali selesai cuci darah, beban di dada saya terasa sedikit lebih ringan. Berat badan saya perlahan turun, dan napas saya mulai kembali panjang.
Di HCU, saya melihat panggung kehidupan yang sesungguhnya. Saya melihat perjuangan pasien lain yang jauh lebih berat dari saya. Di balik wajah-wajah pucat di ruangan itu, tersimpan semangat yang luar biasa untuk kembali sehat. Kami adalah pejuang yang saling menguatkan dalam diam, di tengah suara mesin monitor jantung yang berbunyi bip-bip tanpa henti.
Bidadari Tak Bersayap Itu Nyata Adanya

Di tengah badai ini, saya menyadari bahwa saya tidak berjuang sendirian. Allah mengirimkan dua bidadari dalam hidup saya. Satu bidadari setia menunggu di kursi keras ruang tunggu rumah sakit, memastikan segala kebutuhan saya terpenuhi dan tak henti memegang tangan saya saat nyali ini menciut.
Bidadari lainnya adalah ibu saya, yang dari kejauhan tak pernah putus mengirimkan doa-doa mustajab di setiap sujudnya. Kehadiran mereka adalah jangkar saya. Saat saya merasa ingin menyerah karena bosan dengan makanan rumah sakit yang hambar atau sakitnya jarum yang menusuk, senyum dan doa mereka adalah oase.
Mereka adalah alasan mengapa saya harus terus berjuang. Mereka adalah bukti bahwa cinta sejati adalah obat yang paling mujarab melampaui dosis obat kimia mana pun.
Pelajaran Berharga: Kesehatan Adalah Mahkota
Kini, setelah melewati fase kritis itu, saya menyadari satu hal: Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang sehat yang hanya bisa dilihat oleh orang sakit. Gagal ginjal kronis bukanlah akhir dari dunia, melainkan sebuah babak baru di mana saya harus hidup dengan kedisiplinan tinggi.
Saya belajar untuk menghargai setiap tetes air yang saya minum, karena sekarang asupan cairan saya sangat dibatasi. Saya belajar untuk mencintai diri sendiri dengan cara menjaga pola makan dan rutin kontrol ke dokter.
Untuk teman-teman yang membaca tulisan ini, saya mohon: Jangan tunggu sampai ambruk untuk peduli pada tubuhmu. Lakukan Medical Check Up secara rutin, kendalikan gula darah dan tekanan darah, serta jangan abaikan sinyal kecil yang diberikan tubuh. Kesehatan itu mahal harganya, namun kehilangan kesehatan jauh lebih mahal konsekuensinya.
Gagal ginjal ini memang mengubah hidup saya, tapi ia juga membuka mata hati saya tentang makna syukur yang sesungguhnya. Mari kita jaga kesehatan, karena setiap helaan napas yang lega adalah anugerah yang tak ternilai harganya.
