Siapa sih yang nggak kenal dengan warna hijau khas maskapai yang satu ini? Ya, Citilink Indonesia. Meski berstatus sebagai Low Cost Carrier (LCC) atau maskapai berbiaya hemat, anak perusahaan Garuda Indonesia ini punya reputasi yang nggak main-main.
Bayangkan saja, mereka sudah mengantongi predikat LCC Bintang 4 dari Skytrax.
Biasanya, kalau ada tugas dinas dari kantor, saya sudah “berlangganan” dengan maskapai berlogo singa merah. Tapi kali ini, ada yang beda. Saya dibelikan tiket Citilink rute Jakarta – Medan.
Alasannya sederhana tapi krusial: saya butuh jatah bagasi gratis untuk mengangkut peralatan instalasi. Kalau cuma bawa diri dan baju ganti, mungkin kantor bakal pilih yang paling murah meriah. Tapi kali ini, Citilink adalah penyelamat anggaran bagasi kami.
Baca juga : Pengalaman Menginap di OYO 294 Andrea Residence Syariah, Medan
Berburu Tiket dan Persiapan Keberangkatan
Zaman sekarang, mencari tiket pesawat itu gampang-gampang susah. Gampang karena aplikasinya banyak, susahnya karena harganya suka “balapan” naik. Akhirnya, kami berhasil mengamankan tiket di harga sekitar Rp1,4 juta melalui salah satu aplikasi reservasi online. Sedikit tips dari saya: sering-seringlah cek aplikasi karena kadang harganya bisa lebih murah daripada di website resmi maskapainya sendiri.
Karena membawa “alat perang” berupa 2 koper besar dan 2 koper sedang berisi alat instalasi people counting, opsi naik bus Damri dari Lebak Bulus terpaksa kami coret. Mau coba Kereta Bandara BNI City pun rasanya kurang efisien kalau harus bawa barang sebanyak itu dari perbatasan Jakarta-Depok. Akhirnya, taksi menjadi pilihan paling logis meski harus sedikit merogoh kocek lebih dalam.
Drama di Security Check: Hati-hati dengan Isi Tasmu!
Ada satu pelajaran penting yang saya dapatkan dalam perjalanan kali ini: selalu datang lebih awal ke bandara! Kenapa? Karena kita nggak pernah tahu apa yang bakal membuat kita tertahan di pintu pemeriksaan (Security Check).
Saat di Bandara Soekarno-Hatta Terminal 2, tas punggung saya ditahan petugas. Masalahnya sepele tapi fatal: ada dua buah sekrup gypsum yang ujungnya tajam terselip di dalam tas. Sepertinya sisa-sisa pekerjaan sebelumnya yang lupa saya keluarkan. Hasilnya? Sekrup itu disita dan dicatat.
Lucunya, drama ini berlanjut saat kepulangan dari Bandara Kualanamu, Medan. Saya kembali tertahan! Kali ini penyebabnya adalah Ulanzi F Mount (holder smartphone). Petugas sempat curiga, tapi untungnya setelah dijelaskan, alat itu tidak disita. Jadi, pastikan kamu cek lagi isi tasmu sebelum berangkat, ya!
Intip Kabin Airbus A320 Citilink
Untuk rute Jakarta – Medan, Citilink menggunakan armada Airbus A320-200. Formasi kursinya standar 3-3. Buat saya yang tingginya 160 cm, leg room atau ruang kaki di kelas ekonomi ini masih tergolong manusiawi. Masih ada ruang untuk selonjoran tipis-tipis.
Nuansa kabinnya sangat segar dengan balutan warna hijau. Satu hal yang paling saya ingat dan jadi ciri khas Citilink adalah pengumumannya. Alih-alih cuma bicara formal, para cabin crew sering menyelipkan pantun empat baris yang kreatif. Rasanya seperti mendengar Jarjit di serial Upin & Ipin! Benar-benar cara yang efektif untuk mencairkan suasana kabin yang kaku.wat Citilink
Urusan Bagasi: Rahasia Hemat Biaya Kelebihan
Nah, ini bagian paling informatif buat kamu yang sering bawa barang banyak. Tiket Citilink umumnya sudah termasuk bagasi gratis 20 kg dan bagasi kabin maksimal 7 kg. Tapi, karena alat people counting kami beratnya mencapai 50 kg lebih, kami tetap harus membayar kelebihan bagasi.
Harga kelebihan bagasi rute Jakarta – Medan saat itu adalah Rp55.000 per kg. Karena kami pergi berdua, perhitungannya jadi begini:
Total barang 50 kg – (2 orang x 20 kg jatah gratis) = 10 kg kelebihan. 10 kg x Rp55.000 = Rp550.000.
Tips Pro: Kalau kamu sudah tahu bakal bawa barang berat, sangat disarankan untuk membeli Pre-book Baggage lewat web atau aplikasi sebelum berangkat. Harganya jauh lebih murah! Paket 10 kg via pre-book hanya sekitar Rp330.000. Lumayan banget kan selisihnya buat beli oleh-oleh bolu meranti?
Pengalaman Makan (atau Tidur?) di Pesawat
Citilink menyediakan berbagai pilihan menu masakan Indonesia yang menggoda di buku menu Dine-in Experience mereka. Rata-rata harganya sekitar Rp55.000 per porsi. Sebenarnya saya ingin mencoba salah satu menunya, tapi apa daya, rasa kantuk lebih menang.
Begitu pesawat lepas landas (take off), saya langsung terlelap dan baru terbangun saat roda pesawat menyentuh aspal runway. Ngantuk berat itu memang musuh utama rasa lapar di ketinggian 30.000 kaki.
Kesimpulan
Pengalaman terbang Jakarta – Medan bersama Citilink kali ini sangat memuaskan. Tidak ada drama delay, kru kabin yang ramah dengan pantun-pantun segarnya, serta proses penanganan bagasi yang profesional.
Bagi kamu yang mencari keseimbangan antara harga tiket yang terjangkau namun tetap ingin mendapatkan fasilitas bagasi gratis, Citilink adalah pilihan yang sangat masuk akal di tahun 2026 ini. Cuma satu pesan saya: jangan lupa cek saku tasmu, jangan sampai ada sekrup yang ikutan travelling ya!

