Bogor bagi keluarga kami bukan sekadar titik di peta satelit Jawa Barat. Meski rumah kami membentang di hiruk-pikuk Jakarta Selatan yang jarang tidur, Bogor selalu punya cara unik untuk memanggil kami pulang ke pelukan alam. Ia adalah sebuah oase hijau yang letaknya hanya sepelemparan batu dari stasiun, sebuah kota yang selalu menawarkan kesederhanaan di tengah dunia yang makin rumit.
Bagi Azka dan sepupu-sepupunya, Bogor adalah kotak kejutan yang tak pernah habis isinya. Kadang kami ke Jungleland untuk memacu adrenalin, sesekali ke The Jungle untuk bermain air, atau sekadar menyesap aroma kuliner di sepanjang jalan Surya Kencana yang legendaris. Namun, dari sekian banyak pilihan, Kebun Raya Bogor (KRB) tetap menjadi juara bertahan di hati kami.
Ada babak baru yang selalu menanti di sana. Dan kali ini, petualangan kami terasa lebih istimewa karena kehadiran Eyang—sang “peri bekal” yang tak pernah absen membawa kehangatan lewat masakan rumahnya. Semakin banyak hati yang ikut, semakin meriah pula tawa yang pecah, begitu kata Azka dengan mata berbinar.
Baca Juga : Jangan Ke Jungleland di Kala Musim Hujan
Transportasi Umum: Menjemput Cerita di Atas Rel
Sabtu pagi itu, mentari menyusup malu-malu di antara atap peron Stasiun Universitas Pancasila. Udara pagi masih menyisakan sedikit sisa embun, seolah alam pun tahu bahwa hari ini kami akan memulai perjalanan besar. Kami memutuskan naik KRL, moda transportasi paling setia bagi warga komuter seperti kami.
Kereta tujuan Bogor pagi itu terasa lapang dan tenang. Kursi-kursi kosong berwarna biru itu menatap kami, seolah-olah mereka adalah tuan rumah yang ramah, mempersilakan kami duduk dan menikmati perjalanan. Pemandangan ini kontras sekali dengan gerbong arah sebaliknya, tujuan Jakarta Kota, yang selalu sesak oleh mimpi-mimpi terburu-buru dan wajah-wajah penuh beban kerja. Di sana, mungkin ada isak tertahan karena lelah, atau senyum kecut menatap jam tangan.
Namun di gerbong kami, yang ada hanyalah janji petualangan. Alhamdulillah, kami sekeluarga mendapatkan tempat duduk. Sebuah “berkah kecil” yang sangat berarti sebelum petualangan besar dimulai.
Menuju Jantung Kota Hujan
Kereta meluncur mantap, melewati stasiun demi stasiun yang masing-masing menyimpan fragmen cerita tersendiri. Kami melewati Universitas Indonesia dengan hutan kampusnya yang megah, Pondok Cina yang selalu riuh dengan langkah kaki mahasiswa, hingga Depok dan Citayam yang kian padat.
Sekitar 45 menit perjalanan berlalu dengan obrolan ringan dan tatapan mata anak-anak yang tak sabar menanti ujung rel. Harga tiket yang hanya Rp 4.000 terasa sangat murah dibandingkan dengan kebahagiaan yang mulai mekar di dalam hati. Begitu melewati Cilebut, gerbong mulai lengang. Penumpang satu per satu berpamitan pada kursi mereka, seperti daun-daun yang jatuh di musim gugur, meninggalkan ruang kosong untuk imajinasi kami.
Tiba di Stasiun Bogor, hidung kami langsung disambut aroma gemblong ketan yang manis dan gurih. Menggoda sekali! Padahal, tas Eyang sudah mengembung penuh dengan bekal. Inilah tradisi Eyang yang tak pernah luntur: memastikan perut semua orang kenyang dengan cinta yang dimasak sendiri. Bekal Eyang itu ajaib; selalu cukup, bahkan sering kali berlebih. Mungkin begitulah cara kasih ibu bekerja—ia tak pernah berhitung soal porsi.
Dari Stasiun ke Gerbang Keajaiban
Setelah urusan logistik dan memastikan semua “pasukan” lengkap, kami beranjak mencari angkot—transportasi khas Bogor yang punya reputasi sebagai “raja jalanan” di kota hujan. Kami menuju Gerbang Utama Kebun Raya Bogor yang berlokasi di Jalan Ir. H. Juanda No. 13, tepat di seberang Lawang Surya Kencana yang ikonik.
Mengapa kami memilih gerbang ini? Sederhana saja: di sinilah titik pusat di mana loket tiket shuttle bus berada. Mengingat kami membawa rombongan anak-anak dan Eyang, berjalan kaki menyusuri KRB yang luasnya 87 hektar bukanlah pilihan yang bijak bagi otot kaki kami.
Mengenai nomor angkotnya? Jujur saja, saya sering lupa detail angkanya karena bagi saya, perjalanan adalah tentang arah, bukan sekadar nomor. Namun, tips untuk teman-teman pembaca: cukup tanyakan pada sopir angkot mana yang menuju Pintu Utama atau Museum Zoologi. Sopir angkot di Bogor adalah pemandu wisata dadakan yang sangat handal. Mereka akan menurukanmu tepat di depan pintu kebahagiaan dengan senyum ramah.
Menyusuri Jalanan Bersejarah
Perjalanan singkat dengan angkot itu seperti menembus lembaran sejarah. Dari jendela angkot yang terbuka, kami melihat Istana Bogor berdiri anggun, menyimpan rahasia para pemimpin bangsa di balik tembok putihnya. Kami melewati Gereja Katedral yang menjulang dengan arsitektur gotiknya, Taman Sempur yang asri, hingga Tugu Kujang yang kokoh menunjuk langit. Bogor pagi itu adalah perpaduan antara sejarah kolonial dan modernitas yang harmonis.
Baca Juga : Rekomendasi Tempat Wisata Populer di Bogor
Memasuki Dunia Hijau: Tiket dan Aturan
Setibanya di depan gerbang, udara segar langsung menyerbu paru-paru kami. Rasanya seperti baru saja mencuci muka dengan oksigen murni. Sebelum masuk, tentu saja kita harus “meminta izin” pada alam melalui loket tiket.
Berikut adalah rincian harga tiket masuk Kebun Raya Bogor (berdasarkan pengalaman kami):
| Kategori | Hari Kerja (Senin – Jumat) | Akhir Pekan / Libur Nasional |
| Tiket Masuk KRB | Rp 16.500 | Rp 26.500 |
| Museum Zoologi | Rp 15.000 | Rp 25.000 |
Tips Santai: Kalau kalian mencari ketenangan yang hakiki, datanglah di hari kerja. Bukan hanya soal harga tiket yang lebih murah, tapi soal “ruang” yang bisa kalian hirup. Tanpa kerumunan massa, Kebun Raya terasa seperti milik pribadi.
Melewati pintu masuk sekarang sudah canggih, menggunakan palang besi berputar dengan sistem barcode. Jika kalian merasa gagap teknologi saat memindai tiket, jangan khawatir. Petugas di sana sangat sigap membantu. Kadang, hidup memang tentang melewati gerbang; ada yang terbuka otomatis, ada yang butuh sedikit bantuan orang lain.
Petualangan di Atas Bus Listrik (Shuttle Bus)
Inilah bintang utama petualangan kami kali ini: Shuttle Bus. Setelah menuruni anak tangga masuk, kami langsung menuju loket shuttle bus yang berada di dekat Raffles Cafe.
Selain bus, sebenarnya ada pilihan lain seperti skuter listrik dan golf cart. Namun, ada sedikit drama kecil di sini. Ternyata, untuk menyewa skuter, penyewa harus menunjukkan SIM C. Anak-anak yang tadinya sudah bersemangat ingin bergaya ala pembalap skuter harus menelan kecewa. Tapi ya, itulah dunia; ada aturan yang harus dipatuhi demi keselamatan.
Harga Sewa Kendaraan di Kebun Raya Bogor
| Harga Tiket Shuttle Bus | Ro. 25.000/orang |
| Harga Sewa Golf Cart 4 seat | Rp. 250.000/jam |
| Harga Sewa Golf Cart 6 seat | Rp. 300.000/jam |
| Harga Sewa Scooter | Rp. 45.000/30 menit |
Kami mendapatkan gelang kertas sebagai tiket naik bus listrik. Bus ini sangat sunyi, tanpa asap, seolah-olah ia adalah tamu yang sopan bagi penghuni hutan kota ini. Sesuai aturan, kita akan menaiki bus sesuai nomor yang tertera di tiket.
Saya dan anak-anak mendapatkan kursi di bagian paling belakang bus yang posisinya membelakangi arah jalan. Hasilnya? Para krucil langsung komplain pusing! Tapi keluhan itu tak bertahan lama saat bus mulai bergerak membelah keasrian kebun.
Narasi Pak Sopir yang Hangat
Bus melaju santai, dan Pak Sopir mulai menjalankan perannya sebagai narator perjalanan. Suaranya hangat, menceritakan setiap sudut yang kami lewati:
- Taman Aquatic: Di mana tanaman air menari dalam diam.
- Mexico Garden: Koleksi kaktus yang membuat kami merasa sedang berada di gurun nun jauh di sana.
- Taman Anggrek: Tempat bunga-bunga cantik berbisik tentang kecantikan yang abadi.
Kami menyeberangi Sungai Ciliwung yang mengalir tenang, melewati Komplek Makam Keramat yang sunyi, hingga Makam Belanda dengan nisan-nisan tua yang puitis. Tentu saja, puncaknya adalah melihat bagian belakang Istana Presiden yang megah.
Sayangnya, shuttle bus ini tidak berhenti di tengah jalan. Kami hanya bisa menatap dan mengagumi dari balik bus. Seperti cinta yang belum sampai, hanya bisa dipandang dari jauh. Namun, penjelasan Pak Sopir cukup mengobati rasa penasaran kami. Setidaknya, kami berhasil mengelilingi 87 hektar tanpa membuat lutut Eyang gemetar.




Piknik di Tepi Kolam Gunting
Setelah puas berkeliling dengan bus, tibalah saat yang paling dinanti: Waktunya Makan!
Kami memilih lokasi di dekat Kolam Gunting. Mengapa dinamakan Kolam Gunting? Konon karena bentuknya yang jika dilihat dari atas menyerupai gunting. Di tepi kolam ini, halaman belakang Istana Kepresidenan tampak begitu dekat, dipisahkan oleh hamparan rumput hijau dan air kolam yang tenang.
Eyang pun beraksi. Bekal dikeluarkan satu per satu. Nasi hangat, ayam goreng, sambal, dan lalapan terasa berkali-kali lipat lebih nikmat saat disantap di bawah naungan pohon raksasa yang usianya mungkin sudah ratusan tahun. Di tengah asyiknya kami makan, tiba-tiba seekor biawak muncul, berenang dengan tenang membelah permukaan air kolam. Anak-anak langsung heboh! Bagi mereka, kemunculan biawak itu seperti melihat naga di dunia nyata.
Di sekitar sini juga terdapat penyewaan sepeda. Namun karena hari itu sangat ramai, semua sepeda sudah ludes disewa. Yang tersisa hanyalah satu unit sepeda roda empat. Anak-anak menolak karena mungkin merasa kurang “keren”, kecuali si bungsu yang melihatnya sebagai petualangan baru.
Pulang dengan Hati yang Kenyang
Menjelang waktu Dzuhur, kami mulai merapikan sisa-sisa piknik. Kebun Raya Bogor mengajarkan kami untuk tidak meninggalkan apa pun selain jejak kaki dan tidak mengambil apa pun selain foto. Sampah kami kumpulkan kembali, memastikan area Kolam Gunting tetap bersih seperti saat kami datang.
Kami berjalan perlahan menuju gerbang keluar, meninggalkan hembusan angin sejuk Kebun Raya dengan janji di dalam hati untuk kembali lagi. Mungkin lain kali kami akan datang lebih pagi, memakai sepatu lari yang nyaman, dan mencoba menjelajah setiap sudutnya dengan langkah kaki sendiri—tentunya jika raga ini masih kuat menopang rindu dan semangat bermain.
Bogor hari itu memberikan kami lebih dari sekadar wisata murah. Ia memberikan kami waktu berkualitas yang tak ternilai harganya. Sebuah perjalanan singkat yang membuktikan bahwa kebahagiaan itu sederhana: cukup kereta api, angkot, kebun hijau, dan tentu saja… bekal dari Eyang.
Apakah kamu punya kenangan masa kecil di Kebun Raya Bogor juga? Atau mungkin ada spot tersembunyi favorit kamu di sana? Ceritakan di kolom komentar ya!
