Melodi Basuri di Jalur Garut: Petualangan Menuju Darajat Pass Bersama MSM Maudi

Melodi Basuri di Jalur Garut: Petualangan Menuju Darajat Pass Bersama MSM Maudi 2

Ada sebuah energi yang berbeda ketika sebuah hobi bertemu dengan momen liburan. Bagi sebagian orang, perjalanan jauh adalah beban, namun bagi para bus enthusiast, perjalanan itulah tujuan utamanya. Sabtu dini hari, 4 Januari 2025, saat jarum jam masih tertahan di angka 00.30 WIB dan sebagian besar warga Jakarta masih terlelap dalam selimut, rumah kami sudah mulai berdenyut.

Azka dan sepupunya tidak bisa diam. Mata mereka yang biasanya sayu di jam segini, tiba-tiba membelalak terang.

Melodi Basuri di Jalur Garut: Petualangan Menuju Darajat Pass Bersama MSM Maudi 3

Mereka sedang terserang “demam bus”, sebuah fenomena yang belakangan ini mengubah cara anak-anak melihat aspal jalanan. Hari itu bukan sekadar perjalanan ke Garut, melainkan sebuah ekspedisi impian untuk menaiki sang legenda berklakson merdu: Bus Basuri Telolet MSM Maudi, armada kebanggaan PT. Asyrof Fadel Ali.

Bagi anak-anak ini, Bus MSM Maudi bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah bintang utama, sebuah panggung berjalan yang akan memainkan orkestra “Basuri” di sepanjang aspal Jawa Barat. Darajat Pass di Garut memang magnet yang kuat dengan udara sejuknya, namun bagi mereka, perjalanan tujuh jam itulah yang menjadi “menu utama”.

Bagian I: Kisah Sang Jetbus Hijau dan Dinginnya Dini Hari

Tepat pukul 02.00 pagi, kami tiba di titik kumpul: Kampus Universitas Pancasila. Di sana, sang bintang sudah menanti. MSM Maudi tampil gagah dengan bodi Jetbus 5 SHD (Super High Decker) terbaru. Livery hijau cerahnya seolah membelah kegelapan malam, memberikan kesan segar sekaligus ikonik.

Sebagai orang tua, saya tidak hanya melihat tampilannya, tapi juga kenyamanan interiornya. Kabin MSM Maudi dirancang cukup modern. Setiap kursi sudah dilengkapi dengan USB Charger pribadi—sebuah fitur “nyawa” bagi ponsel pintar di zaman sekarang—serta lampu baca. Namun, ada satu catatan kecil yang perlu kamu tahu: untuk perjalanan kali ini, armada tersebut belum dilengkapi fasilitas toilet di dalam bus. Jadi, manajemen “panggilan alam” harus benar-benar diatur sepanjang jalan.

Baca Juga : Keliling Taman Mini Indonesia Indah Gratis

Meski bus sempat terlambat setengah jam, antusiasme tidak luntur. Malah, pemandangan di sekitar kampus menjadi hiburan tersendiri. Ada bus “Parlente” dari Dewi Permata dan MSM Grand Pegasus yang juga bersiap menuju arah yang sama. Di pinggir jalan, saya melihat fenomena unik sekaligus menyentuh: banyak anak-anak yang menanti di trotoar hanya untuk mendengarkan alunan telolet. Di satu sisi, ini adalah bukti betapa hidupnya dunia perbusan kita, namun di sisi lain, saya juga ingin mengingatkan kepada para orang tua untuk selalu mengawasi anak-anak agar tetap berada di zona aman, terutama saat berburu klakson di malam hari.

Menyusuri Arteri Jawa Barat

Begitu mesin menderu pelan, perjalanan dimulai. Kami menjemput rombongan open trip lainnya di Lebak Bulus dan Bekasi. Setelah semua kursi terisi, Bus MSM Maudi langsung melesat masuk ke Tol Cikampek, berlanjut ke Cipularang, hingga tembus ke Tol Padaleunyi.

Kami sempat berhenti di sebuah rest area di Tol Cipularang untuk menunaikan shalat Subuh. Sayangnya, ada sedikit pengalaman kurang menyenangkan di sini: fasilitas air di rest area tersebut sangat minim. Kendala sanitasi dan wudhu menjadi tantangan bagi rombongan. Ini adalah pengingat bagi kamu yang sering melakukan perjalanan malam agar selalu menyiapkan air mineral cadangan untuk keadaan darurat seperti ini.

Ironi Sunyi di SBR 3

Matahari mulai menampakkan diri saat kami keluar dari pintu tol Cileunyi dan menyusuri jalur Nagreg yang legendaris. Jalur ini adalah panggung sesungguhnya bagi bus telolet. Kami berpapasan dengan banyak bus Basuri, saling bersahutan klakson seolah saling menyapa “Selamat pagi”.

Namun, ada sebuah pemandangan kontras saat kami menepi di SBR 3 Garut, toko pusat oleh-oleh yang sangat populer bagi pelancong. Area parkirnya sangat luas dan dipenuhi bus-bus keren. Namun, suasananya sunyi senyap dari suara telolet. Ternyata, di dinding tertempel poster peringatan keras: “Dilarang Membunyikan Klakson Telolet di Area Parkir SBR 3”.

Saya rasa ini adalah sebuah ironi yang masuk akal. Mungkin kebisingan yang terus-menerus sudah mencapai batas toleransi warga sekitar atau pengunjung lain yang ingin beristirahat. Bus-bus yang namanya besar karena suara riuh, justru harus “puasa bicara” di tempat persinggahannya sendiri. Sebuah pelajaran berharga tentang etika dan toleransi di tempat umum.

Bagian II: Darajat Pass Menyambut

Melodi Basuri di Jalur Garut: Petualangan Menuju Darajat Pass Bersama MSM Maudi 4

Bagian II: Darajat Pass, Hangat di Tengah Dingin

Setelah menyelesaikan hajat tubuh dan sedikit merenggangkan kaki di SBR 3, bus kembali melaju. Jalur menuju Darajat Pass mulai menantang. Jalanan berkelok tajam dan menanjak. Jalurnya terbilang sempit untuk bus besar sekelas Jetbus 5 SHD. Pak Sopir harus ekstra sabar saat berpapasan dengan kendaraan lain. Di sinilah skill pengemudi bus diuji.

Begitu memasuki gerbang Darajat Pass, “orkestra” kembali dimulai. Klakson telolet bersahut-sahutan menyambut kami, membuat Azka dan sepupunya kegirangan bukan main. Darajat Pass bukan sekadar objek wisata; ia adalah permata tersembunyi di ketinggian Garut yang menawarkan pelarian dari kepenatan kota.

Berendam dalam Pelukan Hangat Bumi

Melodi Basuri di Jalur Garut: Petualangan Menuju Darajat Pass Bersama MSM Maudi 5

Magnet utama yang membuat orang rela menempuh perjalanan jauh ke sini adalah air panas alami. Sumber air panasnya berasal dari kawah Kamojang yang dialirkan ke berbagai resort dan pemandian.

Begitu turun dari bus, udara dingin Garut langsung menyergap. Bayangkan betapa nikmatnya merendam tubuh yang pegal-pegal setelah perjalanan tujuh jam ke dalam air hangat yang kaya mineral. Sayangnya, karena kami datang di hari libur, kolam air panas terlihat sangat padat. Rasanya seperti berendam di tengah lautan manusia. Namun, tawa riang anak-anak saat meluncur di seluncuran air membuat kepadatan itu terasa tidak begitu mengganggu.

Menguji Adrenalin dan Menyerap Keindahan

Bagi kamu yang datang bersama keluarga, Darajat Pass sudah menyulap diri menjadi taman air mini. Ada ember tumpah yang besar dan seluncuran yang meliuk-liuk bak ular raksasa. Anak-anak bisa bermain air sepuasnya sementara orang tua bisa menikmati pemandangan.

Namun, bagi saya, Darajat Pass juga menawarkan sisi meditatif. Hamparan kebun teh yang hijau membentang luas di lereng perbukitan adalah terapi mata yang paling ampuh. Saya sempatkan duduk diam di salah satu gazebo, menyesap secangkir kopi hitam panas, dan menghirup udara segar yang terasa memurnikan jiwa. Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Gemuruh telolet di kejauhan terdengar seperti musik latar yang pas untuk keindahan alam Garut.

Penutup Manis: Berburu Rasa Garut

Sebuah perjalanan tidak akan lengkap tanpa menjejakkan lidah pada cita rasa lokal. Di seputar area wisata, banyak warung makan yang menawarkan hidangan Sunda asli. Kamu harus mencoba Dodol Garut yang legit sebagai buah tangan, atau mencicipi Burayot, jajanan unik khas Garut yang rasanya manis gurih.

Satu yang tak boleh terlewatkan: Sate Domba Muda. Dagingnya yang empuk dengan bumbu rempah yang meresap seolah menjadi penutup yang manis bagi petualangan kami hari itu. Makan masakan Sunda di tengah udara dingin adalah definisi kenyamanan yang hakiki.


Epilog: Perjalanan adalah Ceritanya

Pukul 15.00 sore, kami harus bersiap kembali masuk ke dalam Bus MSM Maudi. Perjalanan pulang tentu akan lebih melelahkan, namun raut wajah Azka dan sepupunya sudah menunjukkan kepuasan yang luar biasa. Mereka sudah mendapatkan dosis “telolet” yang cukup untuk diceritakan kepada teman-temannya nanti.

Trip ke Darajat Pass kali ini memberi saya sebuah perspektif baru. Bahwa kebahagiaan itu tidak melulu soal destinasi akhir yang indah. Kebahagiaan bisa ditemukan dalam sebuah penantian dini hari, dalam setiap suara klakson yang bergemuruh, dalam tikungan jalan yang mendebarkan, dan dalam kebersamaan yang terjalin erat di dalam kabin bus.

Darajat Pass adalah kisah tentang air panas dan kabut perbukitan, namun MSM Maudi adalah kisah tentang melodi yang menghubungkan mimpi anak-anak dengan kenyataan di jalanan. Sebuah perjalanan yang akan selalu teringat, diiringi melodi Basuri yang tak akan pernah lekang oleh waktu.

Sampai jumpa di aspal berikutnya!


Apakah kamu ingin saya membuatkan daftar barang-barang penting yang harus dibawa saat trip ke Darajat Pass agar liburan kamu makin nyaman?

Tinggalkan Balasan

*