Mentari pagi di hari pertama Tahun Baru Islam menyapa lembut dari balik jendela rumah kami di Jakarta Selatan. Ada sebuah dorongan sederhana namun menggelitik hati untuk membawa keluarga kecil saya, terutama si kecil Azka, melihat laut. Pilihan kami jatuh pada Pantai Lagoon di Taman Impian Jaya Ancol.
Biasanya, mobil atau bus menjadi andalan untuk perjalanan keluarga.
Namun, membayangkan macetnya jalanan Jakarta saat hari libur nasional membuat nyali saya sedikit ciut. “Kenapa tidak mencoba transportasi lainnya saja?” pikir saya. Setelah riset singkat, pilihan pun jatuh pada si lincah Commuter Line.
Mungkin beberapa dari kamu akan bertanya-tanya, “Memangnya bisa ke Ancol naik kereta?” Jawabannya: Sangat bisa! Bahkan, menurut saya ini adalah salah satu cara paling efisien dan bebas stres untuk berwisata. Berikut adalah catatan perjalanan seru kami.
Mengapa Kereta, Bukan Transjakarta?
Sebelum berangkat, saya sempat mempertimbangkan menggunakan bus Transjakarta. Namun, setelah menghitung kalkulasi perpindahan halte, niat itu perlahan sirna. Setidaknya kami harus melakukan dua kali transit dan memulai perjalanan dari Halte Ragunan yang jaraknya lumayan jauh dari rumah.
Bagi keluarga dengan anak kecil, jumlah transit adalah variabel penting. Semakin banyak pindah moda, semakin besar potensi anak merasa lelah sebelum sampai di tujuan. Itulah mengapa Commuter Line menjadi pemenang dalam rencana perjalanan kali ini.
Baca Juga :
Wisata Edukasi Ke Monas
Menjelajah Taman Impian Jaya Ancol
Etape Pertama: Dari Lenteng Agung Menuju Jakarta Kota
Kami memiliki dua pilihan stasiun terdekat: Universitas Pancasila dan Lenteng Agung. Pagi itu, pilihan jatuh pada Stasiun Lenteng Agung. Alasannya sederhana tapi krusial: area parkir motornya jauh lebih teduh dan bersahabat, aman dari sengatan matahari maupun siraman hujan yang tak terduga.
Tepat pukul 06.30 WIB, kami sudah menjejakkan kaki di peron. Kereta yang datang tidak terlalu lengang, namun untungnya juga tidak sepadat jam berangkat kerja. Awalnya kami bersiap untuk berdiri sambil berpegangan erat mengikuti irama gerak kereta.
Namun, sebuah momen hangat terjadi. Seorang penumpang dengan sukarela menawarkan tempat duduknya untuk Azka dan ibunya. Sungguh, kebaikan kecil di pagi hari seperti ini selalu berhasil menghangatkan hati dan membuat mood perjalanan jadi luar biasa. Terima kasih, orang baik!
Saat kereta berhenti di Stasiun Manggarai—yang merupakan jantung persimpangan Commuter Line—gerbong mulai melonggar karena arus penumpang yang turun cukup banyak. Empat puluh tujuh menit berlalu tanpa terasa, dan kami pun tiba di Stasiun Jakarta Kota. Biaya dari Lenteng Agung sampai sini? Hanya Rp3.000 per orang. Benar-benar hemat!
Untuk menuju Stasiun Ancol dari Stasiun Lenteng Agung menggunakan Commuter Line, kami akan melewati stasiun-stasiun ini :
- Lenteng Agung
- Tanjung Barat
- Pasar Minggu
- Pasar Minggu Baru
- Duren Kalibata
- Cawang
- Tebet
- Manggarai
- Cikini
- Gondangdia
- Juanda
- Sawah Besar
- Mangga Besar
- Jayakarta
- Jakarta Kota (transit)
- Kampung Bandan
- Ancol
Transit di Jakarta Kota: Mencari Kereta ke Ancol

Di Stasiun Jakarta Kota, petualangan belum berakhir. Kami harus berpindah jalur untuk mencari kereta tujuan Tanjung Priok. Tenang saja, kamu tidak perlu mencari peron sembilan tiga perempat seperti di kisah Harry Potter untuk menemukan keajaiban. Hehehe.
Cukup jalan menuju peron 7.
Kereta tujuan Tanjung Priok ini biasanya menggunakan rangkaian kereta dengan delapan gerbong. Jadwal keberangkatannya tersedia setiap 15 menit sekali, mulai dari jam 6 pagi hingga jam 8 malam lewat sedikit.
Suasana di dalam kereta ini sangat kontras dengan kereta jalur Bogor-Kota. Gerbongnya begitu lengang, nyaris kosong, sehingga kami bisa duduk dengan sangat santai. Laju keretanya terasa lebih pelan, mungkin karena jarak antar stasiun yang pendek.
Kami hanya melewati satu stasiun, yaitu Kampung Bandan, sebelum akhirnya tiba di Stasiun Ancol hanya dalam waktu 7 menit.
Logika Tarif yang Bikin Senyum
Ini bagian yang paling menarik bagi saya sebagai kepala keluarga. Berapa total biaya kereta dari Jakarta Selatan ke Ancol? Saat kartu e-Money saya tempelkan di gerbang keluar Stasiun Ancol, saldo yang terpotong secara total hanya Rp4.000.
Bagaimana bisa? Begitulah keajaiban tarif Commuter Line. Skemanya adalah Rp3.000 untuk 25 kilometer pertama, dan hanya bertambah Rp1.000 untuk setiap 10 kilometer berikutnya. Jarak dari Lenteng Agung ke Ancol ternyata masuk dalam kategori hemat ini. Bayangkan jika naik taksi daring, mungkin biayanya bisa puluhan kali lipat!
Etape Terakhir: Angkot vs Jalan Kaki

Keluar dari Stasiun Ancol, rencana awal kami adalah berjalan kaki menuju Pintu Timur Ancol. Menurut peta digital, jaraknya hanya sekitar 10-15 menit berjalan kaki. Namun, realita di lapangan berkata lain.
Kondisi jalanan tanpa trotoar yang layak ditambah arus kendaraan bermotor yang mulai padat membuat saya mengurungkan niat jalan kaki. Keamanan Azka tetap nomor satu. Akhirnya, kami memilih naik angkot yang sudah ngetem tepat di depan stasiun.
Tarifnya sangat standar, yaitu Rp5.000 per orang. Tidak sampai lima menit, kami sudah mendarat dengan selamat di Gerbang Timur Ancol. Meskipun ada sedikit drama sopir angkot yang melawan arah saat menurunkan kami (Ah, potret transportasi kita…), setidaknya kami sampai dengan kondisi fisik yang masih segar untuk mulai bermain pasir.
Kesimpulan: Layakkah Dicoba?
Perjalanan ini membuktikan bahwa wisata ke Ancol tidak harus mahal dan tidak harus macet-macetan. Dengan Commuter Line, kamu bisa menikmati perjalanan yang lebih santai, mengamati pemandangan kota dari balik jendela kereta, dan yang terpenting: menghemat banyak uang yang bisa dialokasikan untuk membeli es krim atau tiket wahana di dalam Ancol nanti.
Jadi, buat kamu yang ingin mengajak keluarga berlibur tanpa pusing memikirkan biaya bensin dan parkir, naik kereta ke Ancol adalah solusi yang sangat saya rekomendasikan.
Apakah kamu punya pengalaman unik saat naik transportasi umum ke tempat wisata? Atau mungkin kamu punya rute rahasia yang lebih seru? Yuk, ceritakan di kolom komentar!
Kisah seru kami bermain pasir dan air di Pantai Lagoon bisa kalian simak di sini:
Pantai Lagoon, Surga Bermain Pasir dan Berenang untuk Anak-Anak
