Ayah dan Azka

Kok, Lengket Banget Dengan Ayahnya?

Spread the love

“Kok lengket banget yah dengan ayahnya?” ujar seorang bapak dengan nada heran kepada temannya, ketika melihat aku dan Azka jalan berduaan di Fortune Swalayan dekat rumah.

Yups, jalan berduaan dengan si kecil Azka yang belum genap 4 tahun.

Seperti biasa, bila sedang sholat Jum’at di masjid dekat rumah bersama Azka, selalu ada rutinitas tambahan untuk mampir ke Fortune Swalayan. Bukan untuk berbelanja, hanya sekedar main di playground anak-anak.

Bukan hanya sekali dua kali aku mendengar celetukan atau ucapan seperti di atas. Dan biasanya yang mengucapkannya bapak-bapak. 😀 Entah kagum atau heran ada ayah dan anak balitnya hanya berduaan saja, tanpa di dampingi sang ibu.

Bahkan pernah suatu kali aku dan Azka menjadi perhatian sekelompok bapak-bapak. Penyebabnya sepele, karena Azka minta buang air besar padahal kami sedang berbelanja di sebuah mini market, dan untungnya mini marketnya ada toilet untuk karyawan, dan kami diizinkan untuk menggunakannya.

Dan aku dengar salah seorang bapak itu berkata,”Kalau anak gua sih gak mau kalau gak sama ibunya.”

Maksudnya tentu saja, kok mau yah Azka buang air besar dan di bersihkan oleh ayahnya.

Tanggung Jawab Bersama

Sejak kelahiran Azka, aku sebagai ayah selalu terlibat dalam tumbuh kembang my little boy ini. Tidak ada pemisahan bahwa si kecil segala sesuatunya harus ditangani oleh ibunya.

Dari hal-hal seperti memandikan dari sejak lahir sampai sekarang, menyuapi makan, memakaikan pakaian, menina bobokan, dan tentu saja bermain dengannya menjadi tugas kami berdua.

Kecuali ketika Azka minta nenen yah, itu jelas tanggung jawab ibu yang tidak bisa digantikan oleh sang ayah, apalagi Azka lulus di sapih ketika ia sudah berusia 2 tahun 11 bulan. 🙂

Buat kami pengasuhan dan pendidikan anak adalah tanggung jawab kami bersama, bila ibunya sedang lelah karena menyusui Azka semalaman, tidaklah menjadi soal bagi ayah untuk mengerjakan segala pekerjaan rumah. Menyusui itu melelahkan lho.

Kenapa tidak dikasih susu formula (sufor) saja agar ibunya dapat beristirahat? Jawabannya simpel aja, Azka tidak suka susu formula dan dot bayi.

Memang Tidak Malu?

Memang sih terkadang ada ibu-ibu temannya istri bila sedang main ke rumah suka heran ketika aku mengerjakan pekerjaan rumah. Pertanyaannya biasanya seragam, kok mau dan malu yah?

Sayang nanyanya ke istriku, kalau ke aku langsung pasti aku jawab kenapa enggak?

Kenapa malu harus mengerjakan pekerjaan rumah? Kenapa harus malu karena memandikan si kecil, membersihkan kotorannya, menyuapinya, memakaikan bedak, pampers, pakaian si kecil?

Pertanyaan atau ujaran seperti itu tidaklah mengherankan, karena di dalam masyarakat kita disadari atau tidak, ada semacam perbedaan antara peran ayah dan ibu. Seorang ayah dianggap baik bila dapat bertanggung jawab dalam pemenuhan nafkah keluarga. Adapun untuk pengasuhan dan pendidikan anak banyak dipegang oleh ibu.

Jadi ketika ada ayah yang ikut mengurus anak, hal itu menjadi suatu hal yang aneh

Padahal seorang ayah dapat menjadi role model bagi anak-anaknya ketika besar nanti, apalagi buat anak laki-laki. Setidaknya aku harus mencontohkan yang baik-baik, walau semua itu tidaklah mudah, kadang masih suka lepas kontrol ketika sedang marah.

Dan bila diperhatikan Azka memang mirip banget dengan aku, like father like son, yang terlihat jelas adalah sifatnya yang pemalu ketika bertemu dengan orang, tetapi akan menjadi akrab bila sudah tune in dengan orang itu.

Sifat yang jelas bertolak belakang dengan ibunya, yang supel, gampang akrab dengan orang.

Semoga engkau jadi anak sholeh yah mas Azka, dan semoga kedekatan kami sekeluarga bisa kekal di dunia dan di surga-Nya. Dan semoga kami bisa menjadi orangtua yang baik.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas